Di tengah gejolak geopolitik dan kenaikan harga batu bara, saham energi di Indonesia menunjukkan kekuatan relatif yang menarik perhatian. AADI memimpin pergerakan positif di antara trio konsorsium Garibaldi Boy Thohir, dengan kilatan harga yang membesarkan ekspektasi investor. Respons pasar terhadap laporan operasional menunjukkan bahwa peluang upside masih terbuka meski volatilitas tetap ada.
Data BEI menyiratkan momentum yang mendukung optimisme: AADI naik 1,69% menjadi Rp10.525 per saham pada Selasa, 17 Maret 2026. Secara bulanan, saham ini melonjak 20,98%, berbalik dari IHSG yang turun sekitar 13,69% dalam periode yang sama. Kekuatan relatif ini menjadi indikator bahwa AADI masih bisa memimpin dalam konteks dinamika sektor batu bara.
Secara operasional, kinerja 2025 menunjukkan fondasi yang kuat: produksi mencapai 68,7 juta ton (+4% YoY) dan penjualan 71,9 juta ton (+6% YoY). Efisiensi cash cost turun 11% YoY, yang membantu menjaga margin operasional meski EBITDA 2025 turun 9% YoY menjadi USD1,14 miliar. RKAB 2026 masih menunggu persetujuan, dengan target produksi sekitar 70 juta ton (+1,9% YoY). Prospek laba akan bertumpu pada harga jual batu bara yang lebih tinggi serta volume penjualan.
| Metric | 2025 |
|---|---|
| Produksi | 68,7 juta ton |
| Penjualan | 71,9 juta ton |
| Cash cost YoY | -11% |
Analisis dari Sucor Sekuritas menyoroti kinerja ADRO yang tetap kompetitif meskipun menghadapi dinamika harga batu bara yang lebih rendah pada 2025. Laba bersih IV-2025 tercatat USD146 juta, naik 15,6% quarter-on-quarter namun turun 26% secara tahunan, sedangkan laba 2025 secara keseluruhan berada di USD448 juta, melampaui estimasi namun menurun tahun ke tahun.
Pendapatan kuartal IV-2025 mencapai USD526 juta, naik 7,2% QoQ, yang didorong oleh harga jual rata-rata (ASP) dan volume penjualan yang lebih tinggi dari perkiraan. Meskipun margin kotor turun menjadi 34% dari 42%, EBIT margin juga menyusut menjadi 27,6% dari 34,2%, menandai tantangan margin akibat harga batu bara termal yang melemah.
Faktor positive kedepannya berasal dari proyek smelter aluminium ADRO (melalui anak usahanya, ADMR) dengan kapasitas sekitar 280 ribu ton yang diharapkan mulai beroperasi tahun ini. Katalis ini, ditambah potensi kenaikan harga aluminium, membuat Sucor Sekuritas memperkirakan laba ADRO bisa mencapai USD514 juta pada 2026 (naik ~15% YoY) dan mempertahankan rekomendasi beli dengan target Rp3.800. Harga aluminium yang lebih tinggi mendukung pandangan ini, dengan asumsi harga sekitar USD3.000 per ton di 2026.
ADMR, anak usaha ADRO, menunjukkan kinerja bulanan yang positif meski lebih moderat dibanding rekan-rekannya, naik 4,27% pada sesi perdagangan hari itu. Sementara itu, tren kinerja bulanan ADMR yang lebih moderat menunjukkan bahwa volatilitas sektor logam masih membayangi pergerakan saham ini.
Proyek smelter aluminium milik ADRO yang dimiliki oleh ADMR diharapkan menjadi katalis utama kinerja perusahaan pada 2026. Proyek ini diperkirakan akan menambah kapasitas produksi aluminium dan berpotensi menarik aliran laba yang lebih besar sejalan dengan dinamika harga logam. Sentimen positif dari prospek proyek ini menjadi faktor pendukung untuk evaluasi investasi jangka menengah.
Secara keseluruhan, analis menekankan posisi strategis ADRO dan ADMR dalam transisi energi serta potensi lonjakan laba dari proyek smelter dan energi terbarukan. Skenario ini membuat rekomendasi beli tetap relevan, dengan fokus pada harmonisasi neraca, arus kas, dan pemanfaatan peluang pasar logam.