Pemerintah melalui program Ultra Mikro (UMi) terus diperluas untuk mempercepat pertumbuhan UMKM. Surakarta menjadi salah satu kota sasaran guna meningkatkan akses pembiayaan bagi usaha mikro. Cetro Trading Insight mencatat bahwa langkah ini berpotensi menstimulasi aktivitas ekonomi tanpa membebani pelaku usaha dengan bunga yang terlalu tinggi.
Data terakhir menunjukkan jangkauan UMi di Solo sekitar 25 ribu penerima. Angka tersebut dinilai belum mencerminkan potensi ekonomi kota sebesar Surakarta. Para pengamat menilai perluasan ini penting untuk memperluas peluang bagi pelaku usaha mikro agar bisa tumbuh secara berkelanjutan.
UMi dirancang untuk pelaku usaha yang kontribusinya signifikan terhadap PDB namun belum memenuhi syarat perbankan. Upaya ini juga melibatkan kerja sama antara pemerintah kota dengan lembaga keuangan non bank LKBB serta Pusat Investasi Pemerintah PIP. Pemetaan pelaku mikro oleh pemerintah daerah diharapkan meningkatkan akurasi target pembiayaan dan dampaknya bagi UMKM.
Keunggulan utama program UMi adalah beban bunga yang rendah bagi pelaku UMKM. PIP menyalurkan dana melalui lembaga penyalur dengan margin sekitar dua hingga empat persen, sehingga biaya pembiayaan tetap terjangkau. Tujuan utamanya adalah membantu pelaku usaha mikro tanpa mendorong beban bunga yang bersifat komersial.
Lembaga penyalur diperbolehkan menambah biaya pendampingan, namun besaran tambahannya harus tetap rasional. Jika biaya pendampingan menjalar menjadi beban bunga mendekati bunga bank, esensi bantuan publik bisa hilang. Karena itu, kebijakan pendampingan perlu disesuaikan agar manfaat pembiayaan tetap terlindungi.
Selain bunga, program ini mendorong kerja sama antara dinas terkait untuk identifikasi dan pemetaan pelaku usaha mikro. Dinas Koperasi dan UKM menjadi ujung tombak identifikasi kebutuhan, sedangkan PIP dan LKBB menjalankan mekanisme penyaluran. Keberlanjutan program bergantung pada sinergi antara pemerintah kota, lembaga penyalur, dan pelaku usaha mikro.
Dalam kunjungan kerja, Suahasil meninjau Kelurahan Sangkrah untuk mengevaluasi progres rumah layak huni yang didanai Program TJSL Kementerian Keuangan tahun 2025. TJSL dimaksudkan untuk menggabungkan upaya sosial dengan dampak ekonomi nyata bagi warga sekitar. Cetro Trading Insight melihat langkah ini sebagai bagian dari strategi multi pillar untuk meningkatkan kualitas hidup warga.
Hasil lapangan menunjukkan TJSL berkontribusi pada peningkatan standar hunian dan membuka peluang kerja di lokasi proyek. Perbaikan fasilitas rumah layak huni kerap mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan bagi pelaku usaha mikro di sekitar area proyek. Namun, untuk menjaga manfaat berkelanjutan, koordinasi antardinas perlu ditingkatkan.
Secara keseluruhan kunjungan menekankan pentingnya koordinasi daerah yang lebih kuat agar TJSL tepat sasaran. Suahasil menegaskan perlunya identifikasi kebutuhan yang akurat untuk optimalisasi alokasi sumber daya. Cetro Trading Insight menilai bahwa kolaborasi antara kebijakan fiskal, program sosial, dan dukungan UMKM akan memperkuat fondasi ekonomi Surakarta ke depan.