RUPST UNTR pada 16 April 2026 mengukuhkan pembagian dividen final tahun buku 2025 sebesar Rp1.096 per saham. Nilai tersebut melengkapi total dividen tunai 2025 sebesar Rp1.663 per saham dan total nilai hingga Rp5,92 triliun. Langkah ini menandai komitmen perusahaan terhadap pengembalian modal kepada pemegang saham meskipun kondisi operasional perusahaan masih terpengaruh dinamika pasar.
Pembayaran interim sebelumnya pada 24 Oktober 2025 sebesar Rp567 per saham telah dilakukan. Direktur Utama Iwan Hadiantoro menjelaskan bahwa sisa dividen akan dibagikan kepada pemegang saham yang tercatat pada 28 April 2026 pukul 16.00 WIB. Penentuan daftar pemegang saham pada Recording Date menjadi dasar pembagian dividen dan memastikan hak pemegang saham terekam dengan jelas.
Nilai total dividen dapat menyesuaikan sejalan program buyback yang sedang berjalan. Jumlah saham berhak menerima dividen akan berfluktuasi sesuai dengan pelaksanaan buyback dan daftar pemegang saham pada Recording Date. Iwan menekankan bahwa mekanisme ini menjaga keseimbangan antara likuiditas perusahaan dan kepastian manfaat bagi investor, dan Cetro Trading Insight mencermati dinamika ini sebagai sinyal manajemen.
Selain dividen, UNTR melakukan perombakan jajarannya di Direksi dan Dewan Komisaris untuk masa jabatan 2026–2027. Beberapa perubahan menempatkan Iwan Hadiantoro sebagai Presiden Direktur tetap, disertai beberapa nama direktur baru dan lama dalam susunan Direksi. Perubahan ini disampaikan melalui konferensi pers usai RUPST di Jakarta dan mencerminkan upaya perbaikan tata kelola.
Secara kinerja, UNTR mencatat laba bersih 2025 sebesar Rp14,81 triliun, turun dibanding Rp19,53 triliun pada 2024. Laba per saham (EPS) tercatat Rp3.970,48. Penurunan laba disebabkan melemahnya kontribusi segmen Kontraktor Penambangan akibat curah hujan yang tinggi serta penurunan kinerja segmen Batubara Termal dan Metalurgi karena harga jual yang lebih rendah.
Pendapatan bersih UNTR 2025 mencapai Rp131,3 triliun, turun 2 persen dari Rp134,4 triliun tahun sebelumnya. Segmen Kontraktor Penambangan tetap menjadi kontributor pendapatan terbesar dengan Rp54,1 triliun, diikuti Mesin Konstruksi Rp36,6 triliun, Pertambangan Batubara Termal dan Metalurgi Rp24,2 triliun, serta Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya Rp14,0 triliun. Perubahan ini menegaskan fokus perusahaan pada konstruksi dan energi, sambil mencermati volatilitas harga komoditas sebagai risiko utama.