Rupee India dibuka dengan nada berhati-hati terhadap dolar AS seiring lonjakan harga minyak global. Lonjakan tersebut meningkatkan biaya impor energi dan menambah tekanan pada nilai tukar mata uang lokal.
Kabar mengenai kerusuhan sipil di Iran dan potensi gangguan ekspor minyak turut menambah volatilitas harga minyak, menjadi beban utama bagi INR. Analis memperkirakan pasokan minyak bisa terganggu hingga jutaan barel per hari, memperburuk tekanan pada rupiah.
Investor menunggu data CPI India AS untuk bulan Desember; inflasi dan dinamika kebijakan moneter ke depan akan membatasi arah pergerakan. Secara global, arus keluar FIIs dari pasar saham India berlanjut, memperpanjang tekanan pada INR.
Dalam grafik harian, USD/INR diperdagangkan di sekitar 90.4665, dengan harga tetap berada di atas EMA 20-hari sekitar 90.2578, menjaga bias jangka pendek menuju sisi atas.
Indikator RSI berada di 56, menunjukkan momentum relatif stabil tanpa kejenuhan beli. Hal ini memberi ruang bagi kelanjutan tren selama harga tetap di atas rata-rata pergerakan.
Support utama berada di EMA 20-hari sekitar 90.2578; jika harga menembus level ini secara tegas, risiko beralih ke fase konsolidasi. Selama RSI tetap di atas 50, penurunan seharusnya terbatas dan peluang kenaikan dapat bertahan sesuai arah utama.