Rupiah Tertekan ke Level 16.85–16.86 Seiring Dolar Menguat dan Ketidakpastian Global

Rupiah tertekan oleh dolar AS dan risiko geopolitik

Rupiah berada di ujung kisaran 16.850–16.860 terhadap dolar AS, dengan penutupan di sekitar 16.856. Pergerakan ini menandakan arus asing yang lebih defensif dan ketidakpastian geopolitik yang menambah beban pada mata uang lokal. Pasar juga mencermati momentum dolar yang sedang menguat, sehingga volatilitas jangka pendek semakin menonjol.

Situasi eksternal tetap menjadi penggerak utama, didorong eskalasi geopolitik dan isu independensi kebijakan bank sentral AS. Pelaku pasar menunggu konfirmasi dari rilis inflasi AS untuk menilai apakah sikap The Fed akan berubah arah. Secara teknis, tekanan pada rupiah cenderung bertahan meski data domestik menunjukkan stabilitas daya beli.

Di sisi domestik, data penjualan ritel November tumbuh 6,3% secara YoY, lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Angka tersebut mengindikasikan daya beli rumah tangga masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan konsumen. Namun, arah jangka pendek rupiah tetap sangat dipengaruhi dinamika global.

Dukungan domestik terlihat dari data ritel November

Secara domestik, sinyal fundamental tetap terkendali meski pasar secara luas berada dalam waspada terhadap faktor eksternal. Data ritel November menunjukkan kelanjutan tren kenaikan daya beli, sehingga rupiah mendapat dukungan psikologis. Namun, dinamika global tetap menjadi faktor penentu utama arah sesi perdagangan berikutnya.

Volatilitas di pasar FX tetap tinggi karena gejolak eksternal. Investor lebih berhati-hati, memilih aset berisiko dengan kehati-hatian yang meningkat. Perhatian utama adalah bagaimana inflasi dan suku bunga AS akan membentuk arus uang di pasar EM.

Secara keseluruhan, nada fundamental domestik terlihat relatif konstruktif, tetapi pasar tetap menimbang risiko eksternal. Eskalasi geopolitik dan isu independensi bank sentral AS terus menjadi faktor penggerak utama. Investor menunda kepastian hingga data inflasi AS rilis untuk mengarahkan langkah berikutnya.

Tinjauan kebijakan moneter dan fokus pada inflasi AS

Dalam beberapa hari mendatang, perhatian pasar berputar ke arah pernyataan pejabat The Fed dan arah kebijakan suku bunga. Argumen mengenai independensi institusi keuangan menjadi bagian dari narasi yang perlu diamati. Secara umum, pasar menanti isyarat jelas tentang tempo pengetatan atau pelonggaran.

Laporan Nonfarm Payrolls Desember menunjukkan tambahan pekerjaan yang lebih lemah dari ekspektasi, meski tingkat pengangguran turun. Upah saat ini juga naik terbatas, menambah ketidakpastian mengenai jalur kebijakan ke depan. Kondisi tenaga kerja yang moderat mendorong para analis untuk menilai kapan pemangkasan bunga akan dilanjutkan.

Pandangan pejabat The Fed seperti Tom Barkin menekankan bahwa pertumbuhan tenaga kerja tetap terbatas dan bahwa inflasi masih perlu waktu turun. Ia menekankan bahwa keputusan kebijakan akan didasarkan pada data ekonomi sesungguhnya, bukan faktor politik. Akhirnya, fokus pasar tetap pada rilis inflasi AS yang akan menentukan arah dolar dan ruang gerak rupiah berikutnya.

Boost Your Business with Cutting-Edge Marketing Solutions Today

Your ad here
Image