USD/JPY melemah ke sekitar 153.20 pada sesi Asia awal hari Kamis, dengan tekanan jual terlihat menjelang pembukaan pasar regional. Analis mencatat adanya volatilitas karena pelaku pasar menimbang dinamika data ekonomi dan sinyal kebijakan. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight (Cetro), yang berupaya menjelaskan konteks pasar bagi pembaca awam secara jelas.
Sentimen investor menguat pada yen setelah kemenangan telak PM Sanae Takaichi, yang meningkatkan ekspektasi bahwa pemerintah akan lebih mendukung fiskal yang pro-pasar. Kemenangan tersebut menimbulkan spekulasi bahwa kebijakan fiskal Jepang bisa lebih ramah terhadap pemulihan ekonomi dan kepercayaan pasar. Akibatnya, permintaan terhadap yen meningkat dan memberi tekanan pada USD/JPY.
Pasar juga menantikan rilis laporan Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan pada hari Jumat, karena data inflasi dapat mengubah pandangan terhadap arah kebijakan moneter. Hasil CPI bisa memperkuat atau meredam diminasi risiko di pasar mata uang, tergantung bagaimana angka tersebut dibanding ekspektasi. Secara keseluruhan, dinamika ini menambah fokus pada bagaimana faktor fiskal Jepang dan inflasi AS berinteraksi dalam satu kerangka perdagangan USD/JPY.
Kantor Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan Nonfarm Payrolls (NFP) untuk Januari bertambah 130.000 pekerjaan, melampaui konsensus pasar. Data itu menunjukkan adanya momentum pekerjaan yang lebih kuat daripada perkiraan, meski bukan angka yang besar. Poin pentingnya adalah NFP yang kuat cenderung mengurangi peluang pemotongan suku bunga Bank Sentral AS (Fed) dalam beberapa bulan ke depan.
Tingkat pengangguran AS juga turun menjadi 4.3 persen dari 4.4 persen bulan sebelumnya, menandakan perbaikan lapangan kerja yang berlanjut. Perbaikan ini mendukung narasi bahwa pasar tenaga kerja tetap ketat dan bisa mengimbangi kekhawatiran inflasi. Kondisi itu menambah tekanan pada ekspektasi Federal Reserve untuk menahan atau menghapus rencana pelonggaran lebih dini.
Menurut alat CME FedWatch, peluang Fed untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya meningkat menjadi sekitar 94 persen, naik dari 80 persen sehari sebelumnya. Gambaran tersebut membuat pergerakan dolar cenderung stabil atau menguat dalam jangka pendek. Namun, volatilitas tetap ada karena investor menunggu konfirmasi melalui laporan inflasi berikutnya.
Secara umum, data pekerjaan yang solid dapat membatasi penurunan nilai dolar dalam jangka pendek, meskipun kelembagaan kebijakan di Jepang membebani USD/JPY secara tersendiri. Para pelaku pasar menilai bahwa rilis CPI bisa menjadi momen pembeda untuk arah pasar forex global. Struktur kebijakan yang berbeda antara Bank of Japan dan Federal Reserve menjadi kunci dalam mengukur pergerakan pasangan yen terhadap dolar.
Investors memperkirakan probabilitas Fed untuk mempertahankan suku bunga pada tingkat saat ini cukup tinggi, mendekati 94 persen seperti yang tercermin pada alat CME FedWatch. Ketidakpastian seputar inflasi di AS dapat memaksa Fed menimbang tindakan lanjutan di masa depan, dengan potensi dampak pada volatilitas dolar. Perubahan ekspektasi kebijakan ini juga bisa memicu pergeseran arah bagi USD/JPY.
Rilis CPI AS berikutnya tetap menjadi fokus utama karena hasilnya dapat mengubah pandangan pasar terhadap risiko kebijakan moneter global. Sinyal inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat menambah tekanan pada dolar dan memperkuat yen ketika tetap lekat pada narasi fiskal Jepang yang lebih pro-pasar. Pelaku pasar disarankan memantau angka CPI sambil menjaga rencana trading yang disiplin sesuai analisa teknikal dan fundamental.