Analis Societe Generale menyatakan Brent berada dalam regime higher-for-longer karena konflik antara AS, Israel, dan Iran yang menunda pembukaan Selat Hormuz hingga April. Kondisi geopolitik meningkatnya risiko gangguan pasokan dari wilayah Teluk membuat pasar minyak lebih sensitif terhadap eskalasi baru. Narasi ini memperkuat fokus pada ketahanan rantai pasokan global dan bagaimana dinamika regional bisa memicu volatilitas harga jangka pendek maupun menengah.
Defisit pasokan diperkirakan memburuk karena produksi Gulf turun dan pemulihan output belum terlihat cepat. Ketatnya pasar didorong oleh penyimpanan inventori yang berjalan secara bertahap, sementara permintaan global tetap kuat pada beberapa segmen. Dengan begitu, proyeksi jangka menengah menunjukkan Brent bisa bertahan di level tinggi lebih lama dari perkiraan pasar sebelumnya.
Prospek jangka menengah juga menekankan bahwa harga bisa melompat lebih tinggi jika gangguan berlanjut, bahkan menuju puncak sekitar $150 per barel dalam skenario ekstrem. Harga terlihat responsif terhadap berita geopolitik, sementara dinamika penyulingan dan logistik menambah tekanan. Analisis ini menekankan bahwa pasar menjadi lebih rapuh terhadap kejutan lain di masa mendatang.
Skenario utama memasukkan dua bulan penutupan Hormuz dengan dampak gangguan pasokan yang berkelanjutan. Estimasi kehilangan output OPEC mencapai 15 mb/d di Maret, dengan penyesuaian di April membentuk defisit sekitar 8 mb/d pada pertengahan hingga akhir bulan. GCC disebut-sebut bisa menekan outputnya hingga 3 mb/d sepanjang sisa tahun, menambah tekanan pada harga.
Harga Brent diperkirakan rata-rata sekitar 125/bbl di April, dengan peluang tembus ke level 150 jika gangguan lanjut. Pemulihan pasokan diperkirakan datang bertahap mulai Mei, seiring arus cadangan strategis G7 dan pembelian China yang mulai pulih. Pasokan tambahan OPEC diproyeksikan kembali secara bertahap, didorong juga oleh dukungan permintaan global.
Cadangan minyak diperkirakan menipis dan baru kembali ke rata-rata lima tahun pada akhir 2026. Secara umum, pasar tetap sangat rapuh dan sangat sensitif terhadap kejutan baru yang bisa memperkuat atau menekan tekanan harga lebih lanjut. Risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama yang membentuk harga Brent di beberapa kuartal mendatang.
Dalam konteks trading, ketidakpastian geopolitik dan dinamika pasokan memberi peluang bagi pergerakan naik ketika Brent menembus level resistensi jangka pendek. Namun volatilitas tinggi menuntut kehati-hatian dan manajemen risiko yang disiplin.
Rekomendasi strategis berlandasan analisis fundamental dengan posisi long pada Brent di sekitar 116 per barel, dengan target hingga 150 dan stop di 110 untuk menjaga risiko terhadap volatilitas pasar. Rasio risiko-imbalan yang disarankan minimal 1 berbanding 1,5, mengingat potensi lonjakan harga yang signifikan jika konflik berlanjut.
Pelaku pasar disarankan memantau perkembangan pembukaan Hormuz dan dinamika pembelian negara maju. Posisi seimbang sebaiknya dipegang secara bertahap sambil menyesuaikan TP dan SL jika kondisi teknikal dan geopolitik berubah.
| Indikator | Keterangan |
|---|---|
| Harga target April | Rata-rata sekitar 125/bbl, bisa mencapai 150/bbl |
| Kehilangan produksi Maret | OPEC kehilangan sekitar 15 mb/d |
| Strategi trading | Long Brent 116 -> TP 150, SL 110 |