Laporan dari Mainichi Shimbun, menurut analisis Cetro Trading Insight, mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut dari BoJ pada pertemuan 16 Februari dengan Gubernur Kazuo Ueda. Sikap politis seperti ini meningkatkan ketegangan dalam koordinasi antara pemerintah dan otoritas moneter. Gubernur BoJ menyatakan pembicaraan tersebut fokus pada perkembangan ekonomi dan finansial secara umum, tanpa permintaan kebijakan moneter spesifik. Pasar valuta asing segera merespons dengan sentimen hati-hati terkait arah kebijakan di masa mendatang.
Kepada BoJ, Cetro Trading Insight mencatat bahwa langkah ini dapat memperumit jadwal pengetatan kebijakan karena koordinasi antara pemerintahan yang kuat dan kebijakan moneter menjadi lebih sensitif. Analis menilai bahwa ketidakpastian politik bisa mengubah durasi dan arah kebijakan meskipun Gubernur Ueda menekankan fokus pada data ekonomi. Ketidakpastian tersebut juga menambah risiko terhadap ekspektasi pasar mengenai suku bunga jangka menengah.
Di sisi lain, perhatian pasar tertuju pada pergerakan USD/JPY yang menguat setelah Yen melemah tajam akibat laporan tersebut. USD rebound dari beberapa sesi penurunan terakhir, dan faktor lain seperti sentimen risiko global turut bermain. Dari perspektif Cetro Trading Insight, volatilitas pasangan mata uang ini bisa meningkat seiring perubahan kebijakan BoJ dan dinamika likuiditas pasar dolar.
Di pasar valuta asing, USD/JPY menguat hampir 1% dan diperdagangkan sekitar 156.20 pada jam perdagangan Eropa. Pergerakan ini didorong oleh pelemahan Yen serta reaksi terhadap dinamika kebijakan BoJ yang menimbulkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan. Sinyal teknikal dan fundamental menunjukkan peluang bagi pemodal yang mengambil posisi long pada dolar terhadap yen, meski volatilitas tetap tinggi.
Sementara itu, para trader menanti rilis ADP Employment Change empat-minggu rata-rata serta pidato pejabat Federal Reserve sebagai panduan arah kebijakan moneter AS. Data itu bisa menggerakkan dolar jika tenaga kerja menunjukkan kekuatan atau jika isyarat kebijakan lebih tegas muncul. Dalam konteks ini, risiko terkait kebijakan perdagangan dan tarif AS juga menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen risiko global.
Selain itu, laporan media mengangkat pertimbangan baru mengenai tarif keamanan nasional yang mungkin diterapkan pemerintahan Trump setelah putusan Mahkamah Agung membatalkan beberapa tarif sebelumnya. Rencana ini, jika jadi, akan menambah ketidakpastian bagi arus perdagangan internasional dan memperkaya risiko bagi mata uang yang sensitif terhadap risiko geopolitik seperti USDJPY. Mengingat dinamika tersebut, pedagang diharapkan tetap memantau respons kebijakan AS serta faktor-faktor geopolitik yang dapat memicu volatilitas lebih lanjut.