USD/JPY berada di sekitar 153,00 setelah menyentuh terendah dua minggu di 152,25. Pergerakan ini menunjukkan konsolidasi relatif di kisaran rendah, dengan volatilitas menipis meski beberapa upaya pemulihan muncul. Pasar menahan diri sebelum data penting dan menimbang arah berikutnya secara hati-hati.
Pergerakan ini didorong oleh dinamika pasar yang mengaitkan data Amerika Serikat dengan kebijakan moneter. Data tenaga kerja yang lebih kuat menahan ekspektasi pemotongan suku bunga Fed dalam waktu dekat, memberikan dukungan terbatas bagi dolar. Sinyal teknikal pada grafik jangka pendek menunjukkan potensi konsolidasi lebih lanjut jika tekanan ekonomi global tetap stabil.
Yen menunjukkan kinerja mingguan terbaik di antara mata uang utama G8, terangkat oleh respons pasar terhadap kemenangan politik di Jepang dan prospek stimulus. Pasar melihat program fiskal besar sebagai pendorong permintaan domestik dan inflasi, meskipun ada kekhawatiran soal pembiayaan utang publik. Secara teknis, tekanan pada BoJ untuk mengubah kebijakan akan tetap menjadi fokus utama dalam beberapa sesi mendatang.
Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) bulan Januari menunjukkan penambahan pekerjaan sebesar 130 ribu, melampaui ekspektasi 70 ribu. Laju pengangguran turun menjadi 4,3% dari 4,4% pada bulan sebelumnya, menambah dukungan bagi dolar AS. Data ini menambah gambaran bahwa ekonomi AS masih tumbuh meskipun ada tekanan biaya pinjaman dan inflasi.
Namun, kekuatan lapangan kerja sangat terkonsentrasi pada sektor kesehatan dengan kontribusi lebih dari 80 ribu pekerjaan, dan revisi data pekerjaan 2025 turun menjadi 181 ribu dari 584 ribu sebelumnya. Kondisi ini menimbulkan pandangan bahwa impresi pertumbuhan pekerjaan mungkin lebih heterogen daripada terlihat di angka total. Investor menilai dampaknya terhadap kebijakan Fed dan kurva imbal hasil obligasi.
Secara keseluruhan, data NFP memperkuat narasi bahwa Fed kemungkinan mempertahankan siklus pelonggaran lebih lama daripada memperketat kebijakan. Meskipun demikian, pasar tetap waspada terhadap keluarnya sinyal kebijakan dari The Fed, yang bisa menyikapi data tenaga kerja dengan hati-hati. Untuk pasangan USDJPY, ini berarti potensi kenaikan atau penurunan dibatasi dalam jangka pendek hingga arah kebijakan lebih jelas.
Kemenangan telak pada pemilihan umum oleh kandidat Takaichi menambah optimisme terhadap stimulus fiskal yang lebih luas dan pemotongan pajak. Langkah ini diharapkan mendorong permintaan konsumen serta inflasi, yang pada akhirnya bisa memaksa BoJ untuk meninjau kembali kebijakan moneternya. Pasar pun bersiap melihat dukungan fiskal mendorong pertumbuhan yang berdampak pada pasar valuta asing.
Investor menilai bahwa program stimulus besar serta pembiayaan melalui utang publik akan didorong meskipun kekhawatiran terhadap beban utang. Kebijakan fiskal yang lebih agresif diperkirakan akan mengubah dinamika nilai tukar dan memicu respons dari BoJ. Namun, beberapa analis memperingatkan bahwa pembiayaan besar bisa menambah tekanan pada keuangan negara jika tidak diiringi pertumbuhan ekonomi yang cukup.
Prospek BoJ untuk menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan, termasuk kemungkinan tindakan pada Maret, menjadi sumber utama perhatian pasar. Kebijakan ini bisa menguatkan yen jika diiringi ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan dukungan fiskal yang kuat. Meski demikian, dinamika ini juga bisa menjadi headwind bagi USDJPY karena pergeseran kebijakan moneter antara AS dan Jepang dapat memperluas volatilitas harga.