USD/JPY diperdagangkan melemah di sekitar 158.85 pada sesi Asia awal Kamis, mencerminkan dampak meningkatnya risiko regional. Investor cenderung mencari perlindungan saat ketegangan di wilayah Timur Tengah meningkat, sehingga yen berpotensi menguat terhadap dolar AS. Pergerakan awal ini menunjukkan respons pasar terhadap kekhawatiran geopolitik yang dapat membatasi penguatan dolar.
Aktivitas militer yang meningkat di jalur perdagangan utama memperkuat sentimen risiko. Iran berupaya membatasi arus lewat Selat Hormuz, yang berfungsi sebagai saluran utama minyak mentah. Sementara itu, AS menunda komitmen untuk mengawal kapal sipil melalui selat tersebut hingga ancaman mereda, menambah ketidakpastian di pasar energi dan mata uang.
Para pelaku pasar menantikan perkembangan lebih lanjut terkait eskalasi konflik. Secara umum, dinamika geopolitik saat ini menambah tekanan pada pasangan USDJPY, karena investor menilai peluang yen bergerak lebih kuat jika keamanan pasar memburuk.
Data CPI AS menunjukkan kenaikan 0.3% secara bulanan pada Februari, sesuai ekspektasi. Angka ini menegaskan bahwa inflasi menurun dari bulan sebelumnya namun tetap berada pada laju yang relevan untuk kebijakan moneter. Ketika volatilitas di pasar energi meningkat, pasar tetap mengawasi bagaimana rata-rata harga menjaga laju inflasi secara keseluruhan.
Inti CPI naik 0.2% MoM sesuai estimasi, menggambarkan tekanan harga inti yang relatif terkontrol. Pembacaan ini mendukung narasi bahwa bank sentral akan berhati-hati untuk mengubah kebijakan di saat inflasi inti tidak menunjukkan tekanan meningkat secara tajam.
Dengan The Fed dipandang akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 18 Maret, pasar fokus pada bagaimana perubahan lain, seperti dinamika harga energi dan imbal hasil obligasi, akan mempengaruhi arah dolar. Pergerakan di harga minyak dan imbal hasil US Treasury berpotensi menambah volatilitas pada USDJPY dalam beberapa sesi ke depan.
Para trader melihat potensi yen sebagai aset lindung nilai bila ketegangan geopolitik terus meningkat. Namun, respons pasar terhadap risiko geopolitik tetap dinamis dan dipengaruhi oleh data ekonomi serta komunikasi kebijakan bank sentral. Karena itu, posisi di USDJPY perlu dikelola dengan cermat, memperhatikan risiko dan peluang secara bersamaan.
Selain faktor geopolitik, dinamika minyak dan prospek inflasi menjadi penentu arah jangka menengah. Walaupun CPI menunjukan inflasi yang terkendali, pernyataan pejabat Fed dan laporan pasar tenaga kerja AS akan memainkan peran penting dalam pembaruan ekspektasi kebijakan. Trader disarankan memantau indikator utama untuk penyesuaian posisi.
Berikut beberapa panduan praktis: tetap fokus pada level support dekat 158–159 dan resistance di sekitar 160–161, waspadai tanda eskalasi konflik, serta ikuti rilis data pekerjaan AS dan komentar pejabat The Fed. Nama media kita, Cetro Trading Insight, menekankan analisis yang menggabungkan faktor fundamental dan sentimen pasar untuk sukses di pasar forex.