Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk memberikan gambaran komprehensif bagi pembaca. USD/JPY terlihat datar sejak pembukaan sesi hari ini, sejalan dengan pelemahan dolar AS secara umum. Pasangan ini bergolak di sekitar level 157.60 dan indeks dolar DXY berada di sekitar 99.63.
Yen gagal memanfaatkan pelemahan dolar karena risiko utama tetap datang dari gangguan pasokan minyak akibat konflik AS-Iran. Jepang sangat tergantung pada energi impor, sehingga perubahan harga minyak bisa langsung mempengaruhi neraca perdagangannya. Analis menekankan bahwa dinamika minyak menjadi faktor penentu arah Yen dalam beberapa pekan ke depan.
Secara teknikal, pergerakan USD/JPY cenderung berkonsolidasi sekitar 157.60. Pasar menunggu data utama seperti PPI Jepang, CPI AS, dan PCE AS untuk memberi arah kebijakan moneter. Sinyal pasar juga menyoroti bahwa keputusan BoJ dan Fed bisa memperpanjang periode volatilitas di kurs utama.
Harga minyak berfluktuasi menanggapi pernyataan bahwa perang bisa berakhir dan kemungkinan pelonggaran sanksi minyak. Pasar juga mencatat adanya potensi koordinasi pelepasan cadangan minyak melalui IEA di antara negara-negara G7. Kondisi ini membantu menahan tekanan inflasi global.
Beberapa laporan menyebut G7 sedang membahas pelepasan cadangan minyak melalui IEA untuk menstabilkan pasokan global. Langkah ini berpotensi menekan harga minyak dan mengurangi tekanan pada inflasi global, setidaknya dalam jangka pendek.
Namun ketegangan tetap tinggi karena Iran mengancam tidak akan membiarkan minyak lewat Selat Hormuz jika eskalasi berlanjut. Ketidakpastian ini menjaga volatilitas tinggi, terutama bagi Jepang yang mengandalkan impor energi. Pasar terus memantau perkembangan geopolitik sebagai faktor utama aliran minyak global.
Investor menanti data inflasi dan aktivitas harga dari AS maupun Jepang, terutama PPI, CPI, dan PCE untuk menakar arah kebijakan moneter. Laporan ADP menunjukkan perubahan pekerjaan bulanan naik menjadi 15.5 ribu rata-rata empat minggu, menambah gambaran dinamika tenaga kerja. Data ini diharapkan memberikan petunjuk terhadap laju inflasi dan ekspektasi suku bunga.
Di sisi Jepang, GDP Q4 tumbuh 0.3% secara QoQ dan 1.3% secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar dan lebih tinggi dari kuartal sebelumnya. Pertumbuhan tersebut mencerminkan pemulihan bertahap meskipun masih menghadapi ketidakpastian global. Perkembangan ini membantu memotong kekhawatiran terhadap dampak kenaikan energi terhadap permintaan domestik.
Secara kebijakan, bank sentral utama menunjukkan peta arah yang berbeda: BoJ diperkirakan menunda kenaikan suku bunga lebih lanjut, sementara Fed cenderung mempertahankan kebijakan lebih lama tanpa perubahan suku bunga. Perbedaan kebijakan ini memperparah volatilitas di pasar mata uang dan menambah kompleksitas analisis risiko untuk USDJPY. Dengan situasi ini, peluang trading menuntut kehati-hatian dan manajemen risiko yang ketat.