USD/JPY telah menembus level 155 karena penguatan dolar secara luas di pasar global. Pergerakan ini mencerminkan dominasi dolar di tengah ketidakpastian global dan arus modal yang lebih kuat pada aset-aset berisiko. Meskipun gejolak geopolitik bisa menunjang Yen sebagai pelindung, dinamika ini tetap sensitif terhadap kejutan geopolitik dan arus likuiditas dolar.
Beberapa faktor geopolitik menambah dinamika pasangan ini, karena eskalasi ketegangan dapat mendorong permintaan terhadap Yen sebagai aset aman. Meskipun demikian, momentum di bawah pengaruh dolar seringkali mengaburkan sinyal bagi Yen. Pasar akan mencermati keputusan kebijakan moneter dan fiskal yang bisa mengubah keseimbangan sekarang.
Selain itu, risiko konflik di wilayah lain bisa membuat investor mencari perlindungan pada Yen maupun CHF, dengan potensi bid aman yang menambah volatilitas. Namun, perubahan kebijakan fiskal Jepang dan jalur suku bunga bisa mengubah arah tanpa terduga. Cetro Trading Insight menggarisbawahi bahwa sentimen pasar sangat bergantung pada kejelasan kebijakan fiskal dan suku bunga.
Rencana anggaran Jepang untuk FY26 dan usulan PM Takaichi untuk menunda konsumsi pajak pada makanan menjadi fokus utama bagi arah Yen. Proses pembahasan anggaran sedang berlangsung, dan kejelasan kebijakan fiskal dapat memperjelas ekspektasi pasar terhadap mata uang Yen. Ketidakpastian fiskal bisa meningkatkan volatilitas pasangan USDJPY.
IMF menekankan kehati-hatian terkait kebijakan pajak, sementara pandangan BoJ mengenai jalur kebijakan suku bunga juga akan mempengaruhi dinamika Yen. Ketidakpastian mengenai arah fiskal dan kebijakan fiskal bisa menahan penguatan Yen secara berkelanjutan. Pasar menilai sinyal IMF tentang fiskal sebagai bagian penting dari prospek yen.
Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini, dengan tingkat netral sekitar 1,5 persen. Proyeksi tersebut menambah tekanan terhadap rancangan Yen jika inflasi dan beban utang meningkat. Investor akan menantikan data ekonomi Jepang dan pernyataan kebijakan pada rapat-rapat mendatang.
Inflasi headline Jepang melemah menjadi 1,5% y/y pada Januari, sementara inflasi inti tetap tinggi di sekitar 2,6% y/y, menunjukkan tekanan harga inti masih ada meski laju inflasi melambat secara umum. Data ini menjadi faktor penting bagi evaluasi kebijakan fiskal dan langkah BOJ ke depan.
Selain itu, IMF mengingatkan perlunya berhati-hati terhadap langkah fiskal yang terlalu agresif, karena perubahan pajak bisa mempengaruhi beban utang dan biaya kesejahteraan. Sinyal ini mengarahkan pasar untuk menilai bagaimana kebijakan fiskal Jepang dapat mengubah profil risiko dan jalur suku bunga. Ketidakpastian fiskal menjadi faktor kunci dalam volatilitas USDJPY. Ketidakpastian geopolitik, terutama risiko konflik di Timur Tengah, berpotensi menambah permintaan terhadap Yen sebagai pelindung risiko, meskipun hal ini juga meningkatkan volatilitas pasangan USDJPY.
Artikel ini disusun untuk pembaca Cetro Trading Insight untuk mengedepankan analisis holistik mengenai faktor fundamental yang membentuk pergerakan USDJPY. Tim kami memantau dinamika fiskal, kebijakan moneter, dan risiko geopolitik untuk memperkaya pemahaman pasar.
Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight.