USD/JPY bergerak melemah menuju sekitar 154,20 pada awal sesi Asia, menandai level terendah sejak pertengahan November 2025. Pergerakan ini terjadi di tengah spekulasi bahwa intervensi pasar valuta asing dapat memberikan dukungan bagi Yen untuk sementara waktu. Kekhawatiran mengenai peningkatan belanja pemerintah Jepang turut membatasi potensi kenaikan untuk pasangan ini.
Para pelaku pasar menilai adanya kemungkinan intervensi sebagai langkah penstabilan sementara, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Jepang maupun AS. Laporan bahwa Federal Reserve Bank of New York telah menghubungi lembaga keuangan mengenai nilai tukar JPY memperkuat spekulasi bahwa koordinasi intervensi bisa terjadi. Kondisi ini menciptakan volatilitas singkat namun signifikan bagi USD/JPY.
Analisis pasar menunjukkan intervensi hanya menunda, bukan membalikkan tren depresiasi yen dalam konteks makro saat ini yang tetap didorong oleh fokus terhadap peningkatan belanja fiskal Jepang. Para pejabat keuangan Jepang menjaga sikap hati-hati; Menteri Keuangan menolak berkomentar sementara Sekretaris Kabinet menegaskan kesiapan mengambil langkah tepat terkait valuta asing. Ketidakpastian fiskal menjelang pemilihan 8 Februari menambah tekanan terhadap pasar utang Jepang dan yen.
USD/JPY turun menuju level terendah 11 minggu di sekitar 154,20 pada awal sesi Asia, menandai momen di mana yen menunjukkan kekuatan terhadap dolar. Spekulasi intervensi terkoordinasi meningkat sejalan dengan dugaan bahwa otoritas Jepang dan AS bisa berkolaborasi. Pasar tetap waspada terhadap kemungkinan tindakan jika volatilitas meningkat lebih lanjut.
Spekulasi diperkuat setelah laporan bahwa Federal Reserve Bank of New York telah menghubungi lembaga keuangan mengenai nilai tukar JPY, menambah indikasi bahwa pihak berwenang siap mengambil langkah jika diperlukan. Konsensus pasar melihat langkah tersebut sebagai upaya menahan depresiasi yen tanpa mengubah tren makro secara mendasar. Perkembangan ini memicu pergerakan harga yang cepat, meskipun belum ada konfirmasi formal.
Kendati demikian, beberapa analis menekankan bahwa intervensi kemungkinan bersifat sementara dan tidak menahan tren yang didorong oleh kebijakan fiskal Jepang. Risiko utama tetap terkait belanja fiskal yang meningkat serta dinamika pemilu mendatang, yang dapat memicu volatilitas tambahan pada pasangan USD/JPY. Pasar menantikan konfirmasi resmi dan pernyataan kebijakan yang lebih jelas untuk menilai arah jangka pendek.
Jepang mempersiapkan pemilihan pada 8 Februari dengan janji untuk menurunkan tarif makanan, yang telah menyebabkan volatilitas di pasar utang dalam beberapa hari terakhir. Kekhawatiran atas beban utang pemerintah menambah tekanan terhadap yen terhadap dolar AS, meskipun beberapa faktor makro mendukung yen dalam jangka pendek. Investasi asing juga mempertimbangkan aliran modal di tengah dinamika fiskal yang berubah-ubah.
Kelompok pemerintahan berupaya menyeimbangkan antara dorongan belanja fiskal dan upaya menenangkan pasar melalui kemungkinan intervensi jika diperlukan. Sinyal bahwa otoritas akan mengambil tindakan tepat terkait valuta asing menambah kepercayaan pasar meskipun belum ada bukti konkrit intervensi berskala besar. Secara umum, yen tampak rentan terhadap perubahan kebijakan fiskal Jepang di fase pemilihan tersebut.
Dalam jangka menengah, jika intervensi potensial terjadi dan belanja fiskal tetap menjadi faktor utama, yen bisa tetap berada di sisi kuat secara teknikal dalam beberapa minggu ke depan. Pergerakan besar tetap bergantung pada dinamika kebijakan moneter AS, keputusan Bank of Japan, serta respons pasar terhadap pengumuman anggaran. Pelaku pasar disarankan untuk memonitor level kunci dan faktor fundamental secara berkala.