USD/THB menguat ke sekitar 32.65, tetap di bawah tekanan akibat defisit perdagangan Thailand dan lonjakan harga energi secara global. Analisis ini menyoroti bagaimana ketidakseimbangan fiskal dan volatilitas energi memengaruhi arah pasangan mata uang tersebut. Pergeseran ini juga dipengaruhi oleh perubahan sentimen pasar terhadap risiko global. Disampaikan oleh Cetro Trading Insight.
Baht telah melemah terhadap sebagian besar mata uang regional sepanjang tahun, turun sekitar 3.5 persen terhadap USD, dibandingkan rata-rata penurunan 1.3 persen untuk mata uang Asia kecuali Jepang. Kondisi ini mencerminkan tantangan bagi stabilitas mata uang domestik dalam konteks dinamika pasar energi dan perdagangan. Investor terus memantau bagaimana faktor eksternal memberi tekanan pada THB.
Analisis dari ekonom Commerzbank Dr Henry Hao dan Moses Lim menegaskan bahwa kenaikan harga energi global serta koreksi harga logam mulia turut membentuk pergeseran tren ini. Ketidakpastian ini meningkatkan volatilitas kurs dan memicu fokus pada bagaimana ruang kebijakan dan perdagangan Thailand akan merespons.
Ekspor Thailand pada Februari dilaporkan melambat 9.9 persen secara tahunan, lebih buruk dari konsensus Bloomberg 17.0 persen, menunjukkan pelemahan pertumbuhan ekspor yang berkelanjutan. TPSO menilai terdapat risiko dua arah terhadap prospek ekspor di masa depan.
Impor melonjak 31.8 persen YoY, tertinggi sejak Desember 2021, didorong oleh perbaikan sentimen bisnis pasca stabilisasi iklim politik akhir 2025. Pengeluaran untuk capital goods naik 49.3 persen dan intermediate goods 53.3 persen, menandakan aktivitas produksi domestik yang meningkat dan permintaan barang modal yang lebih kuat.
Trade balance tetap tercatat defisit sekitar -USD2.8 miliar dibandingkan ekspektasi +USD1.0 miliar, sementara Januari menunjukkan defisit yang lebih besar. TPSO menekankan bahwa outlook ekspor bergantung pada dampak konflik global dan sejauh mana impor AS mempercepat pembelian sebelum tarif global 10 persen berakhir pada Juli. Kementerian Perdagangan memperkirakan ekspor 2026 berada dalam kisaran -3.1 persen hingga 1.1 persen, dengan evaluasi lebih lanjut pada April.