Menurut analis ING Francesco Pesole, tekanan pada Yen Jepang muncul karena kekhawatiran PM Takaichi soal kenaikan suku bunga lebih lanjut dan penunjukan dua anggota BoJ yang dinilai dovish, Ayano Sato dan Toichiro Asada. Meski demikian, ING menilai hal itu tidak mengubah gambaran normalisasi kebijakan secara bertahap yang mereka perkirakan akan berlanjut.
BoJ tetap pada jalurnya dengan ekspektasi kenaikan suku bunga pada bulan Juni hingga 1.0 persen. Narasi tersebut menggarisbawahi rencana normalisasi yang konsisten meski menghadapi kejutan politik dan dinamika pendapat anggota yang berbeda.
Dalam jangka pendek, sentimen risiko yang membaik dan pelemahan CPI inti Tokyo memperkuat tekanan terhadap yen. Analis menyoroti level 157.7 hingga 160 sebagai area yang dipantau untuk risiko intervensi mata uang. Meski ada kemungkinan, otoritas kemungkinan tidak melakukan tindakan hingga menyentuh kisaran 160.
Pada akhirnya, keseimbangan hawk-dove di BoJ mungkin tidak mengalami perubahan besar, dan data ekonomi tetap menjadi pendorong utama keputusan kebijakan.
Gugatan pemerintah terhadap independensi BoJ dapat hadir sebagai faktor wild card; pasar menilai risiko bahwa tekanan politik bisa mengubah arah kebijakan. Ketegangan tersebut dianggap tidak menguntungkan bagi kebijakan jangka panjang BoJ.
Para analis menilai ada peluang untuk menguji kembali level 157.7, dan jika harga menembusnya, risiko intervensi menjadi lebih nyata. Meski demikian, sebagian besar pelaku pasar memperkirakan otoritas belum akan mengubah langkah besar sampai harga mendekati 160.
Pandangan utama ING tetap bahwa kenaikan Juni ke 1.0% menjadi bagian dari jalur kebijakan BoJ.
Secara jangka pendek, prospek yen tetap kabur karena kebiasaan pasar yang berubah-ubah oleh sentimen risiko, sementara jalur normalisasi BoJ tetap relevan.
Intinya, pasar sebaiknya memperhatikan level 157.7–160 sebagai area risiko intervensi, dengan catatan bahwa langkah nyata mungkin baru terjadi jika 160 ditembus.