Nilai Yen Jepang kembali tertekan meski permintaan terhadap aset pelindung risiko meningkat di tengah gejolak geopolitik. Investor mencerna dampak jangka pendek dari lonjakan harga minyak terhadap perekonomian Jepang sebagai negara pengimpor energi terbesar. Dalam liputan analisis, Cetro Trading Insight menyoroti pergeseran sentimen pasar yang dipicu dinamika energi dan data makro global.
Harga minyak melonjak setelah serangan terhadap fasilitas Iran, memicu kekhawatiran memperburuk kondisi fiskal Jepang melalui defisit perdagangan. WTI berada di sekitar 101 dolar AS per barel dan sempat menyentuh level intraday mendekati 113 dolar. Para pengamat membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat oleh kelompok G7 dan IEA yang dapat membatasi lonjakan harga lebih lanjut.
Secara statistik, fokus beralih ke revisi Produk Domestik Bruto Jepang untuk kuartal terakhir tahun lalu yang diperkirakan tumbuh 0,3 persen dibandingkan estimasi awal 0,1 persen. Jika revisi menunjukkan pemulihan yang lebih kuat, hal itu bisa memberi dukungan pada yen dalam jangka pendek. Di sisi lain, indeks dolar AS DXY berada di sekitar 99,35 setelah mencapai tertinggi harian di hampir 99,70, menandakan kehati-hatian pasar terhadap prospek kebijakan moneter AS.
Ketegangan di Timur Tengah terus mempengaruhi arus minyak dan volatilitas pasar valuta asing. Gangguan pada aliran minyak melalui Selat Hormuz memperbesar tekanan pada likuiditas pasar dan memperpanjang jeda pada sinyal kebijakan suku bunga. Sinyal pasar menunjukkan bahwa pembuat kebijakan cenderung menahan pemotongan suku bunga karena inflasi tetap tinggi di Amerika.
Survei pasar juga menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan di sektor tenaga kerja AS, dengan data pekerjaan yang menunjukkan tekanan pada tenaga kerja dan lonjakan tingkat pengangguran, menambah risiko stagflasi. Kumulatif ini menambah kompleksitas tugas Federal Reserve untuk menyeimbangkan inflasi dengan pertumbuhan ekonomi. Investor menunggu petunjuk dari data inflasi AS yang akan dirilis dalam CPI Februari.
Di antara dinamika global tersebut, analisis menunjukkan prospek USDJPY cenderung menguat didorong permintaan dolar dan biaya energi yang lebih tinggi. Pasar menilai bahwa yen melemah ketika biaya energi meningkat, sementara data ekonomi Jepang berpotensi memberi keseimbangan jika revisi GDP lebih kuat dari ekspektasi. Pelaku pasar disarankan memonitor CPI AS dan bagaimana respons kebijakan moneter akan membentuk arah dolar Jepang ke depan.