Penilaian MUFG memperlihatkan yen telah berkinerja lebih lemah dibanding mata uang utama, mendorong USD/JPY kembali menembus level 156,00. Hal ini menandai pergeseran sentimen pasar yang lebih menimbang risiko terhadap yen.
Pergeseran ini dipicu dinamika teknis yang menyertakan penurunan tekanan di level terendah sekitar 152,27 yang tercatat pada 12 Februari, menunjukkan potensi momentum bagi dolar AS.
Para analis menilai bahwa pergerakan tersebut mencerminkan paparan risiko geopolitik, aliran modal global, dan reaksi terhadap data ekonomi Jepang yang relatif stabil dibandingkan pelaku pasar lain.
Kabar media bahwa Perdana Menteri Takaichi mendorong BoJ untuk memperlambat rencana kenaikan suku bunga menambah tekanan pada ekspektasi kebijakan.
Klaim ini menambah skeptisisme bahwa BoJ akan mempercepat pengetatan kebijakan, sehingga yen berpotensi melemah lebih lanjut jika pasar menyimpulkan bahwa pemerintah tidak terlalu khawatir terhadap pelemahan yen.
Di sisi pasar, harga imbal hasil yang diperkirakan sekitar 15 basis poin untuk April bisa dipangkas, mengurangi kepastian jalur pengetatan dan memperkuat dorongan jual yen.
Imbasnya, gerak jual yen tampak meningkat secara overnight, dengan dampak bahwa fokus investor beralih ke bagaimana BoJ merespons tekanan politik.
Pelaku pasar akan memantau komentar pejabat BoJ, data inflasi dan output Jepang, serta dinamika kebijakan global untuk menilai risiko pelemahan yen berlanjut.
Bagi pelaku trading, peluang pada USDJPY lebih menarik jika BoJ tidak menunda sinyal pengetatan; rencana entry bisa dipertimbangkan di sekitar 156,00 dengan target 157,50 dan stop 155,50.