VISI Satu Putra Tbk berpeluang mengubah lanskap industri promosi dan percetakan di Indonesia. Kabar bahwa Nagita Slavina berencana mengakuisisi saham VISI menambah dinamika kepemilikan yang bisa menggerakkan arah perusahaan. Menurut Cetro Trading Insight, potensi kendali baru ini bisa menjadi trigger bagi investor untuk mencermati perubahan strategi dan eksekusi operasional perseroan.
VISI tercatat sebagai emiten yang fokus pada perdagangan besar bahan advertising dan percetakan. Produk yang disediakan meliputi banner, banner stand, tinta percetakan, kain TC, event desk, one way vision, dan produk promosi lainnya. Perusahaan ini memiliki jejak operasional yang kuat dan menargetkan pasar media promosi secara nasional.
Sejak didirikan pada 2018 dan beroperasi sejak 2007, VISI telah membangun jaringan distribusi nasional yang luas. Perusahaan ini mengimpor bahan baku utama dari China untuk mendukung kegiatan bisnisnya dan mengelola tujuh gudang seluas 7.222 meter persegi. Dengan 10 armada logistik, VISI mampu mengantarkan produk ke distributor di berbagai daerah.
Hubungan kepemilikan VISI menjadi sorotan karena adanya kabar akuisisi oleh Nagita Slavina. Jika negosiasi berhasil, aktris tersebut berpotensi menjadi pengendali baru perseroan dan mempengaruhi arah kebijakan perusahaan.
Sesuai data Bursa Efek Indonesia pada Januari 2026, pengendali saat ini adalah David Dwiputra dengan kepemilikan sekitar 71,54 persen dari total saham beredar, diikuti Farel Yonathan dengan 6,51 persen, sementara publik menempati sekitar 20 persen.
Secara struktur pemilik manfaat akhir, yakni pemilik saham yang memiliki kendali nyata, saat ini berada pada David Dwiputra yang juga menjabat sebagai direktur utama. IPO VISI pada 2024 menjadi langkah perusahaan untuk listing di Bursa Efek Indonesia dengan melepas 615 juta saham pada harga penawaran Rp120 per saham, menghasilkan dana sekitar Rp73,80 miliar.
Perdagangan saham VISI menunjukkan dinamika menarik meski laporan keuangan serta rencana kepemilikan baru masih harus diawasi. Pada perdagangan Kamis 12 Februari 2026, harga penutupan VISI berada di Rp820 per saham, turun sekitar 9,89 persen dari harga pembukaan hari itu. Meski begitu, performa satu bulan terakhir tercatat lonjakan sekitar 222 persen, menandakan volatilitas harga yang besar.
Faktor fundamental terkait kabar akuisisi dapat memicu reaksi pasar, sementara dampak jangka panjang bergantung pada bagaimana rencana integrasi dan sinergi antara pihak yang bertransaksi dengan operasional VISI. Investor perlu memantau pernyataan resmi, rencana strategis, serta perubahan kepemilikan yang dapat mempengaruhi kebijakan biaya, akses pasar, dan pendapatan.
Secara ringkas, informasi dalam artikel ini tidak memberikan sinyal beli atau jual karena perubahan kendali masih bersifat berita dan belum ada konfirmasi manajemen. Investor disarankan melakukan analisis lebih lanjut dengan mempertimbangkan konteks fundamental, tren harga, serta risiko perusahaan dalam sektor percetakan dan promosi di Indonesia. Cetro Trading Insight akan terus mengikuti perkembangan dan menyajikan pembaruan sesuai data resmi dari bursa.