Di tengah gejolak geopolitik global, volatilitas pasar saham domestik tetap tinggi. Analisis di Cetro Trading Insight menunjukkan bahwa risiko geopolitik, lonjakan harga energi, dan arus dana asing yang berfluktuasi akan menjaga volatilitas pasar tetap meningkat. Kondisi ini menuntut kehati-hatian investor dalam merencanakan portofolio.
Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong Brent melewati 100 dolar AS per barel, naik sekitar 35 persen dalam sepekan. Hal ini mencerminkan premi risiko geopolitik yang besar dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan. Jika gangguan pasokan berlangsung lebih lama, tekanan inflasi global bisa menguat dan ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih sempit.
Kenaikan harga minyak yang cepat berpotensi menahan laju penurunan suku bunga global dan menekan pasar saham, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. IHSG dan indeks regional cenderung terkoreksi di tengah aliran keluar dana asing yang masih fluktuatif. Dalam konteks ini, pemilihan sektor dan saham dengan fundament yang solid menjadi kunci bagi pelaku pasar.
Pada perdagangan terkini, IHSG berada di level 7.585,69, melemah 1,62 persen, sementara MSCI Indonesia (EIDO) turun 2,70 persen. Tekanan harga saham juga tercermin dari net outflow dana asing sekitar Rp263 miliar. Kondisi ini menggambarkan tantangan likuiditas yang dihadapi pasar saham domestik di tengah ketidakpastian global.
Meski demikian, beberapa saham berbasis komoditas menunjukkan minat beli asing, antara lain ITMG, PTBA, dan BRMS. Kinerja ITMG pada kuartal IV-2025 menunjukkan perbaikan pendapatan hingga USD512 juta, dengan volume penjualan 6,8 juta ton dan harga jual rata-rata USD75 per ton. Disiplin biaya dan efisiensi operasional menjadi faktor pendukung profitabilitasnya.
Menurut analis Mirae Asset Sekuritas, Farras Farhan, sektor batu bara masih menunjukkan ketahanan relatif selama fase penurunan harga komoditas. Sektor ini berpotensi menjadi penopang pasar saat volatilitas global meningkat karena arus kas yang kuat dan permintaan global yang tetap ada. Hal ini membuat komoditas menjadi potensi pelindung portofolio di tengah dinamika pasar.
Menjelang Idul Fitri, aktivitas ekonomi domestik biasanya meningkat didorong konsumsi masyarakat. Hal ini diperkirakan mendorong permintaan pada sektor ritel, makanan dan minuman, serta sektor transportasi. Beberapa perusahaan consumer seperti CMRY dan MYOR bisa menjadi pertimbangan investor seiring peningkatan permintaan menjelang Lebaran.
Mirae Asset menekankan pentingnya alokasi aset yang disiplin untuk menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas pasar dan ketidakpastian global. Investor disarankan memonitor perubahan kebijakan moneter dan dinamika harga komoditas untuk menyesuaikan eksposur sektor. Strategi diversifikasi dan rebalancing berkala menjadi kunci menghadapi tantangan pasar.
Kesimpulannya, analisa ini menyarankan pendekatan selektif dalam memilih sektor dan saham. Memanfaatkan peluang tanpa terlalu agresif serta menjaga likuiditas dan manajemen risiko dapat membantu portofolio bertahan di tengah gejolak. Platform Cetro Trading Insight menekankan pentingnya disiplin investasi dan pemahaman konteks makro sebagai pondasi keputusan.