Wall Street membuka hari perdagangan Jumat dengan tekanan luar biasa, menghadapi dua kenyataan keras yang mengguncang kepercayaan investor. Data tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan menambah ketidakpastian tentang arah pemulihan ekonomi, sementara lonjakan harga minyak menambah beban biaya bagi perusahaan dan konsumen. Kombinasi keduanya memicu kekhawatiran bahwa inflasi bisa tetap tinggi lebih lama dan Federal Reserve mungkin perlu menilai ulang jalannya kebijakan.
Pada pukul 09:34 waktu ET, indeks acuan S&P 500 turun 1,4% menjadi 6.735,06 poin; Nasdaq Composite turun 1,5% menjadi 22.403,71 poin; Dow Jones Industrial Average turun 1,7% menjadi 47.132,82 poin. Penurunan ini melanjutkan tekanan pekan yang penuh gejolak, dipicu oleh kekhawatiran terkait pasokan minyak dan dinamika geopolitik. Investor memperkirakan dampak jangka pendek terhadap pendapatan perusahaan dan belanja konsumen.
Kondisi perdagangan di sesi sebelumnya juga menunjukkan tekanan besar, menyusul kekhawatiran aliran minyak melalui Selat Hormuz. Lonjakan harga minyak menambah beban biaya energi bagi perusahaan dan rumah tangga, sambil mempersulit upaya bank sentral mengendalikan inflasi. Secara keseluruhan, fokus investor tetap tertuju pada bagaimana dinamika geopolitik mempartij volatilitas pasar dan prospek ekonomi.
Laporan payroll nonfarm Februari mengejutkan pasar dengan kehilangan 92.000 pekerjaan, menandakan perlambatan signifikan di pasar tenaga kerja. Secara terduga, ekonom memperkirakan penambahan sekitar 58.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen, menambah tekanan pada prospek inflasi dan biaya hidup.
Data Januari juga direvisi turun; angka 126.000 pekerjaan yang dulu dilaporkan direvisi turun dari 130.000. Selain itu, pertumbuhan pekerjaan Desember 2025 sebesar 48.000 direvisi menjadi penurunan 17.000. Revisi tersebut menambah gambaran bahwa pasar tenaga kerja makin rapuh dan bergantung pada faktor-faktor eksternal yang tak terduga.
Analisis para ekonom menilai laporan ini sebagai salah satu faktor yang membingungkan bagi kebijakan The Fed. Samuel Tombs, ekonom di Pantheon Macroeconomics, menyatakan bahwa “tidak ada kabar baik” dari laporan pekerjaan ini meskipun faktor-faktor lain turut berperan dalam dinamika pekerjaan. Respons pasar mencerminkan ketidakpastian seputar arah suku bunga dan margin kebijakan yang akan dihadapi bank sentral.
Menurut alat CME FedWatch, laporan pekerjaan yang lemah meningkatkan peluang pemotongan suku bunga The Fed. Investor menimbang bahwa kebijakan moneter mungkin menyesuaikan jalurnya untuk meredam inflasi tanpa memperburuk pelambatan ekonomi. Sementara itu, pasar menilai bahwa peluang relaksasi bisa datang lebih cepat jika data pekerjaan terus melemah dan tekanan harga energi tetap tinggi.
Penjualan ritel Januari turun 0,2% secara month-to-month, meskipun angka inti relatif datar. Angka utama yang turun menambah kekhawatiran mengenai kebijakan fiskal dan daya beli rumah tangga. Data ini mempertegas bahwa dinamika permintaan konsumen tetap menjadi faktor penentu arah kebijakan pada kuartal mendatang.
Secara keseluruhan, volatilitas pasar tetap tinggi dan pandangan jangka pendek dinamis. Cetro Trading Insight menilai bahwa pergerakan di pasar akan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan data ekonomi baru, sehingga investor disarankan untuk menjaga profil risiko dan menanti konfirmasi arah yang lebih jelas dari rilis data berikutnya. Oleh karena itu, investor disarankan untuk menjaga likuiditas dan menyiapkan rencana kontinjensi.