
Mata uang Won Korea (KRW) menunjukkan performa impresif dengan melanjutkan reli penguatan terhadap Dolar Amerika Serikat (USD). Berdasarkan laporan analisis terbaru, pasangan mata uang USD/KRW mengalami penurunan tipis ke kisaran 1.430, yang memperpanjang tren koreksi dari sesi perdagangan sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan berkurangnya tekanan beli terhadap greenback di kawasan regional Asia Timur.
Para ekonom dari Commerzbank mencatat bahwa penguatan mata uang Negeri Ginseng tersebut tidak lepas dari aksi nyata otoritas moneter. Muncul laporan kuat mengenai adanya intervensi valuta asing terkoordinasi antara Kementerian Ekonomi dan Keuangan Korea Selatan bersama otoritas Jepang guna meredam volatilitas berlebih. Kebijakan bersama ini dinilai efektif dalam mengirimkan sinyal stabilitas kepada para pelaku pasar internasional.
Selain faktor intervensi pemerintah, aliran likuiditas domestik turut memperkokoh posisi Won terhadap Dolar AS secara konsisten. Aksi korporasi eksportir lokal yang gencar menjual Dolar, termasuk penjualan kontrak forward senilai USD 9,3 miliar pada bulan Juni, menyuntikkan pasokan valas segar ke pasar domestik. Kombinasi faktor eksternal dan internal ini memberikan fondasi yang kuat bagi penguatan KRW.
Dari sisi makroekonomi, rilis data inflasi konsumen (CPI) bulan Juli menunjukkan penurunan ke level 2,8% secara tahunan, melambat dari 3,2% pada bulan sebelumnya. Moderasi inflasi ini sebagian besar dipicu oleh penurunan harga energi global yang memberikan ruang bernapas sementara bagi konsumen. Kendati demikian, angka ini masih berada di atas target jangka panjang bank sentral.
Perhatian utama pelaku pasar kini beralih pada inflasi inti (core CPI) yang mengecualikan komponen bergejolak seperti makanan dan energi, yang justru merangkak naik ke angka 2,6%. Lonjakan inflasi inti ini mengindikasikan bahwa tekanan harga mendasar mulai merambah ke sektor upah dan jasa di seluruh negeri. Fenomena ini diperkuat oleh ekspansi industri semikonduktor yang kembali menggeliat dan memicu pertumbuhan ekonomi riil.
Melihat kondisi tersebut, Bank of Korea (BoK) diproyeksikan masih mempertahankan bias pengetatan kebijakan moneter dengan potensi kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,0%. Notula pertemuan dewan moneter menegaskan kekhawatiran terhadap lonjakan utang rumah tangga dan reli harga properti di kawasan Seoul. Bagi Anda yang ingin memantau peluang pergerakan pasar valas lebih lanjut, manfaatkan fitur analisis pada aplikasi trading yang tersedia di web Cetro.