PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mencatat kontrak baru sebesar Rp12,52 triliun sepanjang 2025, lonjakan yang tidak biasa dibanding periode sebelumnya. Angka ini menegaskan peran perusahaan dalam mendorong pembangunan infrastruktur nasional melalui paket proyek pemerintah yang besar. Proyek-proyek unggulan meliputi jaringan irigasi, Sekolah Rakyat (SR), hingga fasilitas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di berbagai wilayah.
Menurut Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, kontrak tersebut menggambarkan komitmen perseroan untuk mendukung program pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan. Hal ini selaras dengan fokus kebijakan pemerintah yang menekankan percepatan fasilitas publik. Cetro Trading Insight menilai realisasi kontrak ini mencerminkan sinergi antara rencana pemerintah dan kapasitas operasional Waskita.
Dari sisi operasional, perusahaan memperlihatkan kapasitas proyek yang signifikan dengan 63 proyek yang dikelola per 31 Desember 2025, dengan total nilai kontrak mencapai Rp31,7 triliun. Meski volume proyek meningkat, fokus utama perseroan tetap pada penurunan utang melalui berbagai langkah restrukturisasi. Ruang negosiasi dengan kreditor berlanjut, termasuk persetujuan Master Restructuring Agreement (MRA) dan Kredit Modal Kerja Penjaminan (KMKP) oleh 22 kreditur perbankan pada Oktober 2024.
Dari sisi kinerja, pendapatan konsolidasi WSKT mencapai Rp8,85 triliun pada 2025, didukung kontribusi anak usaha sebesar Rp3,1 triliun dan pendapatan induk Rp5,75 triliun. Angka ini menunjukkan stabilitas pendapatan meski tantangan operasional tetap ada. Segmen konektivitas menjadi sumber utama pendapatan, disusul SDA dan gedung.
Laba bruto mencapai Rp1,58 triliun, naik sekitar 12% dibandingkan dengan 2024, mencerminkan perbaikan efisiensi operasional. Gross profit margin WSKT meningkat menjadi 18% pada 2025, dibanding 13% pada 2024, menandakan peningkatan nilai tambah dari pengelolaan proyek. Efisiensi biaya di induk dan anak usaha turut mendorong margin.
Secara keseluruhan, perseroan menurunkan liabilitas sebesar Rp2,21 triliun melalui percepatan divestasi aset dan optimalisasi portofolio. Pada Desember 2025, Waskita melalui anak usaha WKR resmi mendivestikan 20% saham PT Waskita Modern Realty (WMR). Langkah ini sejalan dengan Rencana Penyehatan Keuangan (RPK) yang telah disahkan dalam RUPS dan diharapkan meningkatkan likuiditas serta kapasitas pembiayaan proyek di masa mendatang.
Strategi diversifikasi operasional dengan fokus pada proyek publik menjadi pilar utama bagi WSKT. Peningkatan efisiensi dan penyelesaian beberapa proyek secara tepat waktu berpotensi memperbaiki performa keuangan. Cetro Trading Insight menilai momentum 2025 memberi sinyal positif jika ongoing restrukturisasi utang berjalan lancar dan proyek pemerintah tetap menjadi sumber utama pendapatan.
Meski demikian, perusahaan masih menghadapi risiko terkait biaya material yang fluktuatif dan intensitas persaingan proyek publik. Tantangan tersebut bisa berimbas pada biaya pokok pendapatan jika tidak dikelola dengan cermat. Upaya RPK dan negosiasi kreditur menjadi faktor penentu likuiditas dan kecepatan restrukturisasi di masa depan.
Secara keseluruhan, jika data harga dan level teknikal tersedia, sinyal trading yang konkret bisa ditarik. Namun, tanpa data pasar saat ini, sinyal investasi tidak dapat ditentukan secara tegas. Analisis ini menekankan bahwa kinerja fundamental yang membaik dan langkah-langkah restrukturisasi adalah faktor utama yang perlu dicermati oleh investor ke depan.