
Harga minyak mentah WTI melonjak dan menembus level tertinggi enam minggu di atas 86 USD per barel. Kenaikan ini membuat WTI melonjak sekitar 26% sepanjang Juli hingga saat ini. Faktor utama adalah kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah bisa meluas dan mengganggu pasokan global.
Berbagai laporan membangun opini bahwa jalur pelayaran vital di Laut Merah bisa terkena dampak. Penutupan potensial rute Bab el-Mandeb memperbesar risiko gangguan suplai, sehingga harga minyak terdorong lebih tinggi. Investor menilai berita geopolitik sebagai katalis utama untuk gerak harga jangka pendek.
Analisis dari lembaga riset menyoroti kombinasi gangguan infrastruktur, dinamika geopolitik, dan pasokan diesel yang ketat sebagai faktor pendorong harga. Risiko geopolitik di wilayah strategis menjadi fokus utama bagi trader dan institusi keuangan. Dalam konteks ini, para pihak berwenang terus memantau eskalasi konflik yang berpotensi mengubah aliran minyak global.
Di sisi data, American Petroleum Institute melaporkan stok minyak mentah AS bertambah 2,6 juta barel pada minggu yang berakhir 17 Juli, bertentangan dengan estimasi penurunan 1,5 juta barel. Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan sedikit melambat sementara pasokan naik dalam jangka pendek.
Meski reli harga sempat terhenti sejenak, fokus pasar tetap tertuju pada eskalasi konflik Iran yang bisa memicu gangguan lebih lanjut pada pasokan. Analisis Rabobank menyoroti peran jalur Hormuz dan gangguan terminal CPC sebagai faktor yang memperkuat persepsi risiko pasokan global.
Keadaan saat ini menegaskan bahwa pasar minyak masih sangat rentan terhadap peristiwa geopolitik dan gangguan infrastruktur. Sinyal volatilitas bisa bertahan karena dinamika permintaan, ketegangan regional, dan kondisi pasar diesel yang ketat. Cetro Trading Insight menekankan perlunya pemantauan berkelanjutan terhadap faktor-faktor ini oleh trader dan investor.