
Harga WTI diperdagangkan mendekati USD97,60 per barel setelah sesi Asia. Harga sempat berada di zona negatif tetapi sentimen pasar mulai membaik karena tekanan pasokan yang ketat. Meski ada pergerakan kecil, tren mingguan diperkirakan tetap bullish dengan potensi kenaikan lebih dari 6% karena situasi diplomatik antara AS dan Iran yang membuat Selat Hormuz tetap tertutup secara efektif.
Penutupan ganda pada jalur pelayaran utama minyak telah menjadi fokus utama negosiasi internasional. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz berdampak pada aliran minyak global dan meningkatkan volatilitas harga. Para analis memperingatkan bahwa hambatan ini bisa mengurangi kemampuan pasar untuk menyalurkan pasokan secara normal.
IEA melaporkan bahwa aliran crude dan produk minyak melalui Selat Hormuz turun sekitar 4 juta bpd pada Maret dan April. Meskipun konflik bisa berakhir bulan depan, pasar minyak global diperkirakan tetap kekurangan pasokan hingga Oktober. Kondisi ini memperkuat risiko kenaikan harga bagi konsumen dan produsen.
Pertemuan dua jam di Beijing antara Presiden Trump dan Xi Jinping menyoroti potensi perubahan pola perdagangan energi global. White House melaporkan Xi menyatakan minat untuk membeli lebih banyak minyak AS guna mendiversifikasi sumber energi China dan mengurangi ketergantungan pada jalur Hormuz. Langkah ini jika direalisasikan dapat meningkatkan permintaan minyak AS dan mendorong dinamika harga lebih lanjut.
Sementara itu, komentar Trump tentang 'life support' terhadap gencatan senjata menunjukkan betapa rapuhnya upaya perdamaian. Hal ini menambah ketidakpastian pasar keuangan dan energi. Pelaku pasar terus memantau perkembangan diplomatik sebagai faktor penentu arah harga minyak.
Pertemuan dua jam di Beijing membuka peluang bagi perubahan pola perdagangan energi global. Xi menunjukkan minat yang lebih besar dalam memperkaya cadangan minyak AS sebagai langkah diversifikasi. Kebijakan tersebut, jika direalisasikan, berpotensi mengurangi ketergantungan China pada jalur pasokan berisiko dan menambah dinamika permintaan minyak mentah.
Situasi pasokan yang rapuh membatasi ruang gerak harga minyak. Kondisi ini diperburuk oleh pembatasan aliran dari wilayah bergejolak. Analisis menunjukkan bahwa faktor geopolitik akan tetap menjadi driver utama pergerakan harga minyak, terutama karena akses ke Hormuz sulit.
Proyeksi IEA menunjukkan pasar bisa tetap undersupplied hingga Oktober meski ada langkah politis untuk meredam konflik. Hal ini menandai risiko volatilitas harga yang tinggi bagi produsen dan konsumen di seluruh dunia. Investor juga perlu memperhatikan data persediaan dan perkembangan diplomatik yang mempengaruhi arah pasar.
Bagi pelaku pasar, volatilitas tinggi menambah kebutuhan hedging dan manajemen risiko. Investor perlu memantau data persediaan dan perkembangan diplomatik untuk menilai peluang dan risiko posisi. Pendekatan yang terukur diperlukan untuk mengelola eksposur terhadap fluktuasi harga minyak.