
West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 7,38% pada hari itu, berada di sekitar $82,60 per barel. Pembukaan pekan dibuka dengan gap bearish besar setelah AS dan Iran menunda serangan, mencerminkan kekhawatiran deeskalasi di awal pekan. Sinyal umum di pasar menunjukkan bahwa premi risiko geopolitik telah berkurang untuk sementara, meskipun potensi gangguan pasokan tetap relevan. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Penurunan harga terjadi saat investor menilai risiko geopolitik sebagai premis risiko pasokan. Jangkauan deeskalasi yang diharapkan meningkatkan aliran perdagangan melalui Selat Hormuz menumbuhkan optimisme sementara. Namun para analis mencatat bahwa berita tentang berhentinya kampanye militer AS terlihat lebih sebagai jeda daripada penyelesaian jangka panjang.
Para analis menilai ini sebagai jeda sementara tanpa klaim deeskalasi permanen. Perspektif pasar tetap berhati-hati karena ada faktor navigasi di Selat Hormuz dan program nuklir Iran yang belum terselesaikan.
Faktor fundamental yang mempengaruhi pasokan menyiratkan bahwa tren penurunan harga didorong oleh harapan deeskalasi. Meskipun beberapa risiko pasokan berkurang, pasar tetap waspada terhadap gangguan yang bisa muncul kembali melalui jalur pengiriman minyak global. Analis OCBC menyebut bahwa langkah mundur harga sebagian disebabkan permintaan berita positif dan ketidakpastian sisa di wilayah tersebut.
Di sisi Iran, kebijakan 'attack for attack' masih memungkinkan jika AS melanjutkan serangan. Hal ini menambah ketidakpastian mengenai kapan konflik akan kembali memanas. Pembatalan serangan sejenak menambah peluang bagi perdagangan kapal untuk melewati Selat Hormuz secara lebih aman.
Keseluruhan, risiko pasokan tetap mengintai meskipun jeda sedang berlangsung. Pasar menilai bahwa risiko geopolitik tidak hilang sepenuhnya dan pergerakan harga bisa berubah jika ketegangan meningkat lagi. Sinyal harga saat ini lebih cenderung mencerminkan koreksi teknikal daripada perubahan fondamental jangka panjang.
Para pelaku pasar minyak masih dihidupi oleh premi risiko geopolitik yang tinggi, meskipun beberapa berita memberikan kejernihan sementara. Penurunan harga sebesar 7% mengindikasikan fase momentum bearish yang kuat pada pembukaan pekan. Namun alih-alih menutup peluang, beberapa analis menilai peluang rebound jika jalur pasokan melalui Hormuz pulih.
Untuk strategi perdagangan, para pelaku pasar disarankan memantau irisan antara berita diplomatik dan aliran kapal melalui Selat Hormuz. Ketidakpastian pada deeskalasi yang lebih permanen berarti potensi volatilitas tetap tinggi. Risiko terhadap pasokan bisa meningkat jika konflik kembali mencuat.
Secara jangka menengah, skenario yang lebih berkelanjutan akan bergantung pada kemampuan diplomasi dan kemampuan militer kedua pihak untuk menahan diri. Sinyal teknikal dapat berubah dengan cepat seiring perubahan risiko pasokan global. Karena itu, para investor disarankan mengelola risiko dengan panduan umum dan menunggu arah yang lebih jelas.