
Menurut laporan Cetro Trading Insight, WTI sempat melemah setelah pembukaan hari senin dengan gap bearish. Harga sempat menyentuh sekitar 96.45 per barel sebelum reli. Meski bergerak di wilayah mid-$98 per barel sepanjang sesi Asia, penurunan harian tetap berada di atas 1%.
Faktor geopolitik menjadi pendorong utama pergerakan kali ini. Ketegangan antara Iran dan risiko di Selat Hormuz meningkatkan peluang gangguan pasokan minyak global.
Di sisi lain, kemajuan pembicaraan damai antara AS dan Iran belum terlihat, sebuah faktor yang memberi ruang bagi minyak untuk berfluktuasi. Sementara itu, keputusan OPEC+ untuk meningkatkan produksi menambah tekanan pada arah harga jangka pendek, meskipun nuansa dolar AS yang menguat ikut membatasi kenaikan.
OPEC+ menyetujui peningkatan output sekitar 188000 barel per hari pada Juni untuk tujuh negara anggotanya, langkah yang menunjukkan komitmen untuk menjaga keseimbangan pasokan global.
Ketegangan di Hormuz memberi risiko tambahan terhadap suplai minyak, walaupun dolar AS yang sedang menguat memberi efek berlawanan pada sentimen pasar.
Para pelaku pasar mencermati langkah kebijakan dan dinamika geopolitik ini sebagai bagian dari konteks volatilitas harga minyak, karena perubahan pasokan dapat terjadi kapan saja.
Dolar AS kembali menunjukkan penguatan setelah beberapa sesi yang diimbangi oleh koreksi minyak, didorong oleh permintaan terhadap aset safe-haven dan dinamika kebijakan moneter.
Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed menambah tekanan pada dolar, yang pada gilirannya membatasi potensi reli minyak jika greenback menguat lebih lanjut.
Secara keseluruhan, analisis ini menilai bahwa risiko geopolitik dan dinamika pasokan membuat pergerakan harga minyak tetap terfragmentasi dalam jangka pendek.