
Harga minyak WTI bergerak turun sekitar $69,70 per barel, level terendah sejak awal konflik Israel-Iran. Pergerakan ini mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik yang semula menopang harga. Menurut Cetro Trading Insight, dinamika pasar kini lebih dipengaruhi faktor fundamental pasokan dan permintaan daripada kejutan geopolitik jangka pendek.
Penjualan tersebut terjadi di tengah ekspektasi bahwa aliran minyak dari Teluk akan pulih secara bertahap meski volume di Selat Hormuz masih belum kembali ke level pra-konflik. Data pelayaran menunjukkan peningkatan arus kapal, menandakan normalisasi perdagangan, tetapi tingkat aktivitas masih di bawah rekaman sebelum krisis. Kondisi ini mengurangi tekanan pada premi risiko sambil menjaga dinamika harga tetap rapuh.
Beberapa analis menyoroti bahwa pelonggaran sanksi sementara AS terhadap pembelian minyak Iran telah memperbesar ekspektasi pasokan global. Sementara itu, beberapa pedagang melihat pelemahan harga bisa berlanjut jika faktor risiko menurun lebih lanjut. Namun pandangan lain mengingatkan bahwa pasar tetap rentan terhadap kejutan geopolitik baru.
Data pelayaran menunjukkan peningkatan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz, menandakan normalisasi perlahan dari arus perdagangan minyak. Namun volume kendaraan melalui jalur itu masih berada di bawah tingkat pra-konflik, memberi sinyal bahwa keseimbangan pasokan belum pulih sepenuhnya. Perubahan ini menambah nuansa bahwa pasar minyak sedang dalam transisi menuju keseimbangan yang lebih stabil.
Qatar dan Oman meluncurkan inisiatif regional untuk merangkul Iran, negara teluk, dan Irak dalam kerangka kerja jangka panjang bagi pengelolaan jalur penting tersebut. Inisiatif tersebut bertujuan menjaga kebebasan transit sambil menimbang biaya terkait keamanan, navigasi, dan perlindungan lingkungan. Upaya ini mencerminkan upaya regional untuk mengurangi ketidakpastian operasional di wilayah strategis.
Telah jelas bahwa negara Teluk menekankan prinsip kebebasan transit, sementara Teheran mungkin mengajukan biaya terkait keamanan, navigasi, dan perlindungan lingkungan. Diplomat-diplomat regional menilai bahwa kerangka kerja tersebut bisa menjadi pijakan untuk stabilitas jangka panjang meskipun persoalan geopolitik tetap berlarut. Pasar menunggu detail rencana dan bagaimana fasilitas keamanan akan dibayar antarpihak.
Di sisi geopolitik, negosiasi Washington-Tehran mengenai inspeksi nuklir terus menjadi fokus utama pasar. Presiden AS mengatakan Iran sepakat mengizinkan inspektor IAEA kembali, meskipun pejabat Iran menyatakan belum ada jadwal yang disepakati. Ketidakpastian mengenai komite inspeksi menambah variabel bagi pergerakan harga minyak ke depan.
Beberapa analis, termasuk tim riset ING, menilai volume minyak melalui Hormuz masih jauh dari level pra-konflik meski beberapa indikator logistik membaik. Kondisi ini menambah validitas pandangan bahwa pasar minyak tetap rapuh terhadap gangguan meskipun ada progress diplomatik. Investor tetap memantau perubahan dinamika pasokan dan risiko geopolitik.
TD Securities menyoroti penurunan persediaan minyak mengapung di Teluk, yang bisa membatasi kemampuan pasar menjaga arus pasokan jangka panjang. Sinyal-sinyal fundamental menunjukkan potensi keseimbangan pasokan melebar jika aliran Gulf berangsur normal. Risiko geopolitik tetap menjadi faktor penentu sentimen, meskipun kerangka diplomatik sedang dibangun.