
Harga WTI berada di sekitar 69,60 dolar per barel pada sesi Asia awal Senin, setelah laporan bahwa AS dan Iran berupaya melanjutkan pembicaraan untuk meredakan konflik regional. Sentimen pasar merespons karena rencana pertemuan di Qatar pada Selasa dinilai bisa membuka jalur bagi kembalinya aliran minyak melalui Selat Hormuz. Para pelaku pasar menimbang peluang terhambatnya gangguan pasokan versus risiko eskalasi yang bisa mengangkat atau menekan harga minyak secara singkat.
Menurut laporan Axios, Washington dan Tehran sepakat menunda serangan dan melanjutkan pembicaraan teknis di Qatar. Hal ini terjadi setelah serangan balasan AS terhadap fasilitas militer Iran pekan lalu terkait serangan terbaru Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Opsi utama pasar adalah pemulihan aliran minyak melalui Selat Hormuz jika negosiasi membawa kemajuan, meskipun kekhawatiran mengenai eskalasi regional masih ada.
Para trader juga menantikan rilis laporan minyak mentah mingguan American Petroleum Institute API nanti hari ini. Jika laporan menunjukkan penarikan persediaan yang lebih besar dari ekspektasi, harga WTI bisa melejit karena sinyal permintaan yang lebih kuat. Sebaliknya jika persediaan meningkat lebih besar dari proyeksi, permintaan berkurang dan tekanan harga bisa melemah.
Ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi faktor penentu arah harga minyak, meskipun pertemuan AS-Iran memberikan potensi meredanya konflik. Pasar menilai bahwa setiap kemajuan dalam negosiasi berpotensi mengekang risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Di sisi lain, kekhawatiran akan peningkatan aksi militer tetap hidup jika negosiasi terhenti, sehingga volatilitas tetap ada.
Analisis teknikal menunjukkan bahwa kisaran sekitar 69 dolar berfungsi sebagai area penting bagi pergerakan jangka pendek. Namun alur berita geopolitik bisa mengangkat atau menekan harga bergantung pada hasil negosiasi, tanpa arah yang konsisten. Investor akan menimbang laporan mingguan API dan berita regional sebagai kunci pembacaan arah berikutnya.
Proyeksi pasokan global masih sangat bergantung pada aliran dari kawasan, terutama jika solusi diplomatik berhasil. Penilaian risiko pasar mengingatkan bahwa volatilitas bisa meningkat jika eskalasi kembali terjadi. Pasar minyak akan menimbang faktor-faktor ini bersama data ekonomi lain untuk menguatkan asumsi arah harga ke sesi berikutnya.
Rilis API menambah konteks fundamental bagi pergerakan minyak mentah AS. Angka penarikan persediaan yang lebih besar dari ekspektasi cenderung mendongkrak harga karena sinyal permintaan yang lebih kuat. Namun investor tetap memperhatikan bagaimana respons pasar terhadap perkembangan diplomatik di Timur Tengah dan rilis data ekonomi global.
Jika angka API menunjukkan penimbunan besar, harga bisa mendapatkan tekanan turun karena sinyal pasokan lebih besar dari yang dibutuhkan pasar. Kondisi demikian bisa memperlemah momentum kenaikan harga minyak meskipun ada berita tentang dialog AS-Iran. Secara keseluruhan, kombinasi berita geopolitik dan data API membentuk peta risiko yang kompleks bagi trader.
Di sesi Asia berikutnya, pelaku pasar mungkin menimbang lintasan harga jangka pendek dengan fokus pada level teknikal terdekat dan peluang breakout. Rincian lebih lanjut tentang aliran minyak melalui Selat Hormuz menjadi bahan diskusi utama di pasar energi global. Kejelasan atas hasil pertemuan Qatar dapat menentukan arah harga WTI dalam beberapa sesi mendatang.