Harga WTI mengalami penurunan tipis setelah AS melonggarkan sanksi terhadap perusahaan minyak negara Venezuela. Langkah ini menambah kelancaran aliran pasokan dan meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan domestik. Pemerintah AS juga memberikan waivers terkait Jones Act selama 60 hari yang memungkinkan kapal asing mengangkut bahan bakar antar pelabuhan AS, sehingga distribusi dalam negeri bisa lebih efektif.
Di sisi lain, aliran minyak dari Irak melalui ladang Kirkuk ke pelabuhan Ceyhan di Turki mulai kembali melalui jaringan pipa setelah Baghdad dan Pemerintah Regional Kurdistan sepakat untuk memulihkan aliran tersebut. Rekalibrasi infrastruktur ini dipandang menenangkan pasar sementara waktu dan mendukung pilihan pasokan dari berbagai sumber.
Meski ada sinyal kelonggaran, pasar tetap mewaspadai premi risiko geopolitik yang tinggi. Serangan terhadap infrastruktur energi utama di kawasan Timur Tengah dapat dengan cepat mengubah pola pasokan dan menambah volatilitas harga minyak.
Baru-baru ini, serangan terhadap fasilitas LNG milik Qatar mengikuti serangan Israel terhadap ladang gas South Pars milik Iran, menambah kekhawatiran gangguan pasokan minyak dan gas global. Peristiwa ini mempertegas bahwa ketegangan regional dapat berdampak langsung pada volatilitas harga komoditas energi utama.
Presiden AS mengungkapkan bahwa ia memiliki pengetahuan sebelumnya mengenai serangan tersebut, namun ia menyerukan pembatasan serangan lebih lanjut terhadap aset energi Iran. Pesan ini mencerminkan dinamika diplomasi di tengah eskalasi militer yang berpotensi mengganggu aliran energi regional.
Di Saudi Arabia, pihak berwenang melaporkan keberhasilan menggagalkan serangan terhadap salah satu fasilitas gasnya. Ia juga melaporkan beberapa insiden di UAE yang terkait dengan upaya peluncuran misil menuju fasilitas gas dan ladang minyak. Kejadian ini menyoroti risiko yang melingkupi infrastruktur energi regional dan dampaknya terhadap sentimen pasar.