XLSMART Tahan Dividen 2025, Fokus Investasi 5G dan Integrasi Smartfren untuk Pemulihan Profitabilitas

XLSMART Tahan Dividen 2025, Fokus Investasi 5G dan Integrasi Smartfren untuk Pemulihan Profitabilitas

trading sekarang

Di tengah dinamika industri telekomunikasi, XLSMART menegaskan tidak akan membagikan dividen untuk tahun buku 2025. Keputusan ini diambil setelah persetujuan pemegang saham dalam RUPST di Jakarta, Rabu (20/5/2026). Langkah ini mencerminkan fokus manajemen pada pemulihan kinerja melalui investasi berkelanjutan dan penyesuaian neraca terkait beban biaya pasca merger.

Menurut Direktur dan Chief Financial Officer XLSMART, Antony Susilo, pembagian dividen tidak bisa dilakukan karena perusahaan melaporkan kerugian pada 2025. Kebijakan perusahaan adalah menghindari pembagian laba jika laporan keuangan menunjukkan rugi, untuk menjaga stabilitas modal dan kapasitas investasi jangka panjang.

Penegasan kejernihan finansial ini juga menyoroti beban depresiasi non-cash akibat integrasi pasca merger, sehingga fokus perusahaan beralih pada upaya efisiensi dan peningkatan ketahanan jaringan sebagai pilar masa depan.

XLSMART melanjutkan proses integrasi layanan pasca merger dengan Smartfren, dengan target rampung pada April 2027. Manajemen menilai integrasi ini sebagai fondasi penting untuk meningkatkan kualitas layanan, memperluas jaringan, dan memberikan pengalaman digital yang lebih baik bagi pelanggan.

Hingga akhir 2025, progres integrasi sekitar 70 persen site telah terintegrasi. Hal ini diharapkan memperkuat daya saing perseroan, mempercepat layanan digital, dan memperluas jangkauan hingga ke kota-kota tanpa koneksi terbaik sebelumnya.

Investasi masa depan difokuskan pada penguatan jaringan 5G di berbagai kota Indonesia dengan alokasi laba bersih yang sebagian akan dialokasikan untuk mempercepat implementasi. Manajemen optimis kecepatan penyelesaian integrasi bisa memperbaiki margin dan profitabilitas pada kuartal berikutnya.

Untuk tahun buku 2025, XLSMART menunjukkan kinerja yang relatif kuat secara pendapatan meski rugi bersih tercatat sebesar Rp4,4 triliun. Pendapatan mencapai Rp42,49 triliun, tumbuh sekitar 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh momentum merger dan ekspansi jaringan.

EBITDA yang dinormalisasi mencapai Rp20,14 triliun, naik 13 persen, sedangkan laba bersih yang dinormalisasi sekitar Rp3,00 triliun, meningkat 63 persen. Angka-angka ini menunjukkan potensi rebound operasional jika progres integrasi dan depresiasi non-cash dapat terkendali sepenuhnya.

Meski demikian, kinerja laporan 2025 menunjukkan beban depresiasi atas aset lama yang dipercepat karena tidak lagi bisa dipakai, satu faktor utama penyebab rugi. Dalam jangka menengah, fokus perusahaan adalah menyelesaikan integrasi dan mempercepat peningkatan jaringan 5G untuk menambah pendapatan dan memperbaiki profitabilitas, dengan dukungan analisa dari Cetro Trading Insight.

banner footer