Artikel ini merangkum penilaian ekonom ABN AMRO mengenai bagaimana kejutan harga energi yang dipicu oleh Iran bisa mempengaruhi jalur kebijakan Federal Reserve dan arah dolar AS. Mereka menilai bahwa dampak terhadap pertumbuhan AS relatif terbatas, tetapi inflasi bisa naik secara signifikan karena tekanan harga energi.
Menurut evaluasi mereka, dampak terhadap pertumbuhan AS tidak besar, namun tekanan inflasi akan meningkat karena harga energi tetap tinggi. Hal ini menyoroti pentingnya respons kebijakan moneter yang peka terhadap perubahan biaya energi.
Dalam skenario sentral, lonjakan inflasi terkait energi mendorong inflasi headline mendekati empat persen pada kuartal kedua tahun ini dan tetap tinggi sepanjang tahun. Disinflasi terkait energi karena basis yang tinggi akan menahan penurunan inflasi, sehingga inflasi bisa mendekati target 2 persen pada kuartal kedua 2027.
Dalam skenario tengah, inflasi naik tetapi diperkirakan masih berada dalam rentang look-through, sehingga The Fed kemungkinan tidak akan memangkas suku bunga tahun ini. Mereka memperkirakan pemotongan 25 basis poin per kuartal mulai Q2-2027, dengan tingkat terminal sekitar 3,00% pada akhir 2027.
Dalam skenario negatif, inflasi diperkirakan melonjak lebih cepat hingga sekitar 4,7% pada kuartal ketiga dan tetap tinggi untuk periode yang lebih lama, sehingga kebijakan tetap berada di 4,00% hingga sekitar tahun 2027.
Dalam skenario positif, jalur pemangkasan tetap relevan: diperkirakan ada tiga pemotongan tambahan mulai dilakukan sekitar Juni, menjaga jalur kebijakan yang lebih lunak jika tekanan inflasi mereda.
Kebijakan The Fed yang didorong oleh dinamika inflasi energi dapat memengaruhi nilai dolar AS, terutama jika tekanan inflasi tetap tinggi dan ekspektasi pemangkasan berkurang.
Kehadiran pemimpin bank sentral seperti Powell versus kandidat Warsh bisa mengubah narasi pasar. Jika Warsh bergabung sebagai ketua, narasi transitori bisa mendominasi dan pelaku pasar mungkin menahan kekhawatiran terhadap penurunan pasar saham meski adanya kekhawatiran kenaikan suku bunga.
Secara keseluruhan, respons kebijakan terhadap lonjakan energi akan membentuk jalur obligasi, saham, dan imbal hasil. Berbagai skenario membawa risiko terkait keuangan global yang berbeda, sehingga investor perlu mempertimbangkan dinamika inflasi energi dalam keputusan portofolio.