
Pasar energi kembali berguncang saat ADRO Tbk menampilkan perlambatan kinerja 2025 yang menimbulkan tanda tanya luas. Pendapatan turun 10% menjadi USD1,87 miliar, memicu tekanan pada laba bersih yang anjlok. Perubahan ini dipicu oleh pelemahan harga jual batu bara dan dampak pemisahan unit AADI yang mengubah struktur pendapatan perusahaan.
Margin laba bruto turun signifikan, dari 42% menjadi 34%, meski beban pokok pendapatan tumbuh relatif kecil seiring penurunan pendapatan. EBITDA juga terkoreksi 19% menjadi USD799 juta karena efisiensi biaya yang terlihat menahan tekanan. Sementara itu, biaya operasional turun 24% sebagai bagian dari upaya pengendalian biaya.
Laba usaha merosot 27% menjadi USD518 juta, dan ada kontribusi negatif dari hilangnya laba dari operasi yang dihentikan, AAI. Tanpa faktor itu, laba bersih diperkirakan turun sekitar 27% ke USD570 juta, menunjukkan bahwa spin-off dan dinamika operasional menjadi kontributor utama perubahan. Secara umum, kinerja bottom line tetap rentan terhadap volatilitas harga komoditas dan struktur usaha grup, menurut analisis independen dengan perspektif Cetro Trading Insight.
Di sisi likuiditas, saldo kas dan setara kas turun 26% menjadi USD1,4 miliar, menandakan tekanan likuiditas meski perusahaan menjaga likuiditas. Posisi utang berbunga melesat 43% menjadi USD775 juta, didorong oleh realisasi belanja modal yang mencapai USD797 juta (+43%).
Lonjakan belanja modal didorong oleh investasi di sektor aluminium melalui Kalimantan Aluminium Industry (KAI), yang kini telah memulai pengujian dan commissioning sebagian pada smelter. Investasi ini mencerminkan strategi diversifikasi sekaligus upaya meningkatkan kapasitas produksi jangka panjang.
Selain itu, Alamtri meningkatkan infrastruktur seperti peningkatan jalan hauling, pembuatan konveyor tongkang, dan fasilitas mess karyawan di proyek Maruwai Coal, serta perseroan menyiapkan tahap 2 jalan hauling. Peningkatan infrastruktur ini diharapkan dapat mendukung kelancaran operasi dan logistik di prospek produksi mendatang.
Secara operasional, produksi batu bara naik 12% menjadi 7,41 juta ton; penjualan total mencapai 6,28 juta ton juga naik 12%. Peningkatan kapasitas produksi didukung oleh kontribusi dari PT Maruwai Coal dan PT Lahai Coal, sejalan dengan upaya efisiensi operasional di berbagai tambang.
Overburden removal naik 12% menjadi 26,33 juta bcm dengan nisbah kupas 3,55 kali, menandakan aktivitas tambang yang lebih intensif. Rasio kupas yang tetap tinggi mengindikasikan tantangan geologi namun didorong oleh peningkatan produksi yang berkelanjutan.
Meski volume meningkat, tingkat profitabilitas sangat sensitif terhadap dinamika harga jual batu bara dan biaya operasional. Dari sudut pandang investor, perhatikan perubahan belanja modal dan struktur utang yang bisa mempengaruhi arus kas jangka menengah. Menurut Cetro Trading Insight, kinerja ADRO tetap bergantung pada volatilitas harga komoditas dan kemampuan perusahaan menjaga biaya operasional tetap terkendali.