Menurut Cetro Trading Insight, platform analisis pasar kami, bursa Asia bergerak prihatin menjelang akhir pekan karena aksi ambil untung dan kekhawatiran seputar kecerdasan buatan. Aksi ini menyatu dengan tekanan dari pelemahan Wall Street, sehingga risiko berada di level lebih tinggi untuk investor ritel maupun institusi. Analisis kami menekankan bahwa pergerakan harga mencerminkan rebalancing portofolio dan konteks kebijakan moneter yang berhati-hati.
Nikkei 225 turun 0,75 persen, sementara TOPIX melemah 0,91 persen menjadi sekitar 3.855 poin, mengikuti arus koreksi global. Pasar Jepang masih dibayangi kekhawatiran mengenai dampak AI pada margin perusahaan dan produktivitas, meski ada optimisme terhadap langkah kebijakan domestik yang dapat menjaga pertumbuhan tanpa membebani fiskal. Gelombang tekanan ini menambah jarak antara performa indeks dengan level tertingginya beberapa waktu lalu.
Kinerja beberapa perusahaan menunjukkan dinamika berbeda: SoftBank Group turun lebih dari 5 persen meski melaporkan laba kuartalan yang didorong valuasi terkait OpenAI; Recruit Holdings serta Hitachi turun 7 persen dan 4 persen. Sebaliknya, Kioxia Holdings melonjak sekitar 12 persen karena kinerja kuartalan yang solid dan reli harga NAND yang didorong oleh momentum AI, memberikan contoh bagaimana siklus tertentu tetap kuat meski pasar menahan arah umum.
Di Australia, S&P/ASX 200 merosot lebih dari 1 persen ke sekitar 8.917, memutus reli dua hari dan mengikuti pelemahan Wall Street semalam. Penurunan ini mencerminkan dampak kekhawatiran atas AI terhadap sentimen investor dan potensi gangguan pada beberapa model bisnis tradisional di sektor teknologi serta sektor terkait.
Sektor teknologi Negeri Kangguru memimpin penurunan, dengan Wisetech Global anjlok hampir 14 persen, mencapai level terendah sejak Juli 2022. Eksposur terhadap perubahan teknologi dan margin yang menipis menjadi faktor pendorong volatilitas di indeks regional, meski masih ada sektor lain yang mencoba menahan risiko secara lebih selektif.
Selain itu, pergerakan di bursa regional lain turut bervariasi. Shanghai Composite turun 0,28 persen, Hang Seng turun 1,53 persen, dan STI Singapura terkoreksi 1,22 persen. Berbeda dengan tren di bursa utama regional, KOSPI Korea Selatan naik 0,48 persen didorong oleh perbaikan permintaan domestik dan ekspor semikonduktor yang solid, menambah nuansa beragam di lanskap pasar Asia.
Di Wall Street, indeks utama melemah karena tepi teknis volatilitas saham teknologi dan sikap hati-hati investor menjelang data inflasi AS yang akan dirilis. Sentimen risk-off meningkat seiring berjalannya minggu, dengan investor menimbang proyeksi kebijakan The Fed di tengah kekhawatiran pertumbuhan global.
Laporan tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan mengurangi harapan terhadap pemotongan suku bunga dalam waktu dekat, sementara klaim tunjangan pengangguran turun meski tidak sebesar ekspektasi. Penantian terhadap data CPI AS menjadi fokus utama jelang rilis berikutnya, menambah beban pada pergerakan indeks utama di pasar global.
Secara keseluruhan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,34 persen, S&P 500 turun 1,57 persen, dan Nasdaq Composite merosot 2,04 persen. Meski demikian, dinamika di Korea Selatan menunjukkan perbaikan permintaan domestik dan ekspor semikonduktor yang lebih kuat, menambah faktor dukungan bagi pelaku pasar dalam jangka pendek meski risiko global tetap tinggi.