Harga aluminium melonjak secara signifikan pada perdagangan Kamis, memantapkan momentum kenaikan karena kekhawatiran akan defisit pasokan. Faktor geopolitik di Timur Tengah memperkuat kekhawatiran bahwa fasilitas peleburan bisa terganggu dan produksi bisa turun. Investor juga mencatat adanya sinyal positif dari upaya diplomatik yang berpotensi menormalkan permintaan industri logam.
Data pasar menunjukkan rebound harga hingga level tertinggi. Kontrak aluminium tiga bulan di London Metal Exchange naik 1,27% menjadi USD3.667,5 per ton, level tertinggi sejak Maret 2022. Sementara itu, kontrak aluminium paling aktif di Shanghai Futures Exchange menguat 2,89% ke 25.635 yuan per ton, tertinggi sejak 9 Maret.
Menurut JP Morgan, defisit aluminium primer global bisa mencapai 1,9 juta ton pada 2026. Proyeksi tersebut muncul seiring potensi gangguan pasokan hingga 2,4 juta ton di wilayah Timur Tengah akibat konflik yang merusak fasilitas peleburan dan memaksa pemangkasan produksi. Sebelum konflik, Teluk menyumbang sekitar 9% dari total pasokan aluminium global; kini beberapa smelter dilaporkan mengurangi output atau mengalami kerusakan.
Faktor fundamental dari pasar logam menunjukkan ketatnya pasokan global. JP Morgan memperkirakan defisit aluminium primer global bisa membengkak menjadi 1,9 juta ton pada 2026, terbesar sejak 2000. Konsensus pasar menimbang risiko geopolitik yang bisa mengganggu akses ke sumber aluminium.
Selain itu, pergerakan stok menjadi pendorong penting. Persediaan aluminium di gudang terdaftar LME turun sekitar 15% sejak akhir Februari, menambah tekanan pada harga. Di Jepang, stok aluminium di tiga pelabuhan utama menyusut 7,4% pada Maret dibandingkan Februari, memperkuat sinyal permintaan yang kuat.
Optimisme permintaan terdorong juga oleh solidnya permintaan ekspor aluminium China dan penurunan stok domestik. JP Morgan bahkan menilai harga aluminium berpotensi menembus USD 4.000 per ton dalam beberapa bulan ke depan jika pasokan tetap ketat. Secara teknikal, momentum harga terlihat mendekati level resistance utama, sehingga volatilitas bisa meningkat di jangka pendek.
Bagi produsen, dinamika pasokan yang ketat dapat menaikkan biaya produksi dan memperbaiki margin pada logam aluminium. Perusahaan smelter menghadapi ketidakpastian operasional yang bisa memicu penyesuaian produksi secara bertahap. Analisis segera diperlukan untuk menilai dampak terhadap biaya energi dan input logam.
Bagi investor dan trader, peluang beli muncul seiring dengan keketatan pasokan dan potensi lonjakan harga. Sinyal trading yang kuat memerlukan manajemen risiko dengan stop loss yang rasional dan target proyeksi yang jelas. Dalam konteks ini, rasio risiko terhadap imbalan sebaiknya minimal 1:1,5 untuk menjaga kelangsungan posisi.
Cetro Trading Insight mengingatkan untuk memantau perkembangan geopolitik serta laporan persediaan global secara berkala. Selain itu, rekomendasi fokus pada kualitas exposure dan diversifikasi portofolio komoditas. Pembaca didorong untuk mengikuti update pasar secara rutin melalui platform kami agar respon terhadap perubahan pasar bisa cepat.