Rilis data CPI Februari AS dari BLS telah dinantikan pasar untuk menilai arah inflasi. Perkiraan menunjukkan inflasi tahunan sekitar 2.4%, dengan core CPI di sekitar 2.5%. Secara bulanan, CPI diperkirakan naik 0.3% setelah kenaikan 0.2% pada Januari. Angka-angka ini penting karena inflasi tetap menjadi pilar utama kebijakan Federal Reserve. Meskipun sinyal moderasi terlihat, pasar tetap melihat inflasi berada di atas target 2% untuk beberapa waktu ke depan.
Analisis awal menunjukkan dinamika harga yang berfokus pada bagaimana komponen layanan dan barang berkontribusi terhadap tekanan harga. Core CPI diperkirakan tumbuh sekitar 0.2% secara bulanan dan sekitar 2.5% secara tahunan. Namun, lonjakan harga minyak sejak akhir Februari dapat memperbarui tekanan harga secara luas jika pass-through ke layanan dan barang lebih kuat dari ekspektasi.
Dampak bagi EURUSD secara langsung terlihat pada bias teknis yang saat ini lebih cenderung bearish meski sempat rebound. Lonjakan minyak mentah WTI setelah operasional militer di wilayah Iran mengilustrasikan bagaimana harga energi bisa mengubah aliran perdagangan mata uang utama. Sementara CPI tidak sepenuhnya mencerminkan dampak energi, para trader memantau dengan cermat bagaimana dinamika harga energi mempengaruhi daya tarik dolar AS terhadap euro.
Secara teknis, EUR/USD menunjukkan bias bearish jangka pendek meski terdapat aksi rebound terbatas. RSI harian masih berada di bawah level 50 meskipun berhasil reli dari dekat 30, menandakan momentum naik belum kuat. Pasangan ini juga tertahan di bawah area resistance penting sekitar 1.1675–1.1700 dan berada di bawah 200-day SMA serta level retracement Fibonacci 61.8% dari tren sebelumnya, memperkuat pandangan koreksi turun.
Jika EURUSD gagal mempertahankan diri di zona 1.1675–1.1700, skenario koreksi berikutnya dapat menargetkan sekitar 1.1600–1.1590. Kejatuhan lebih lanjut menuju 1.1500–1.1470 bisa menjadi kemungkinan jika tekanan jual tetap kuat, karena kedua level tersebut berfungsi sebagai support historis dan baseline tren turun.
Di sisi atas, level resistensi berikutnya terlihat di sekitar 1.1750 (Fibonacci 50%) dan 1.1820 (Fibonacci 38.2%), yang membatasi potensi pergerakan naik. Meskipun ada rebound teknis singkat, momentum tetap lemah karena indikator seperti RSI belum menunjukkan konsolidasi bullish yang kuat.
Kondisi inflasi AS dan prospek kebijakan Fed akan menjadi penentu utama arah pasangan euro-dollar dalam minggu-minggu ke depan. Data CPI Februari diperkirakan tidak jauh berbeda dari ekspektasi, sehingga reaksi awal pasar kemungkinan bersifat moderat namun penting bagi arah jangka pendek.
Harga minyak yang lebih tinggi dan dinamika geopolitik menambah unsur risiko pada volatilitas dolar. Dalam konteks teknikal, EURUSD cenderung tetap berada di bawah tekanan meskipun ada upaya rebound, sehingga fokus beralih pada bagaimana data inflasi mempengaruhi ekspektasi kebijakan.
Fokus utama bagi pelaku pasar adalah di level kunci 1.1675–1.1700 untuk potensi bias naik yang terbatas dan di 1.1600–1.1590 untuk tekanan ke sisi bawah. Secara risiko-imbangan, proyeksi harga jangka pendek bisa terlihat sekitar 1.1600–1.1500 jika tren turun berlanjut, meskipun hal tersebut tergantung pada dinamika energi dan kebijakan moneter yang berkembang.