Harga WTI terpantau turun pada sesi Asia Rabu setelah berusaha rebound dari level sub-$76, kini diperdagangkan mendekati $82.00. Penurunan harian sekitar 4% mencerminkan tekanan jual yang kembali aktif meskipun ada pembalikan kecil dari posisi terendah sebelumnya.
Secara teknikal, retracement tajam dari level tertinggi sejak Juni 2022 telah terpangkas mendekati 200-hour Simple Moving Average (SMA) pada hari Selasa.
MACD histogram mengkerut setelah periode positif, dan garis MACD melandai sedikit di atas nol, menunjukkan momentum kenaikan melemah dan potensi koreksi lebih lanjut. RSI berada sekitar 42, tetap di bawah 50 sehingga tidak menunjukkan overbought.
Kekhawatiran terkait gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz menambah ketidakpastian, meskipun belum ada tanda pembalikan momentum bullish yang kuat.
Support awal terlihat di sekitar $82.00, dengan lantai yang lebih kuat di $81.00; jika harga menembus $81.00, tujuan berikutnya berada di sekitar $79.00. Menurut Cetro Trading Insight, momentum saat ini masih rapuh meski ada dukungan teknikal di dekat 200-SMA.
Di sisi atas, resistensi terdekat berada di sekitar $83.50; pergerakan pulih di atas zona ini diperlukan untuk meredakan tekanan bearish dan membuka peluang menuju $85.00, lalu melanjut ke kisaran puncak sekitar $88.00.
Rencana perdagangan utama adalah posisi jual di sekitar $82.00, dengan target profit di $79.00 dan stop loss di $83.00, sejalan dengan dinamika teknikal yang telah dibahas.
Alasan sinyal ini didasarkan pada pelemahan momentum teknikal, MACD yang mulai melemah, RSI di sekitar 42, dan kurangnya follow-through pembelian.
Namun jika harga menembus $83.50 dan bertahan, skenario bearish bisa kehilangan momentum dan harga berpotensi memutar arah menuju $85.00–$88.00, sehingga trader perlu memantau pembaruan pasar.