
Analisis ini merangkum pandangan Deutsche Bank terkait dinamika inflasi di Inggris. Sanjay Raja menilai headline CPI akan bergerak ke 3.01% year-on-year pada Mei, dengan CPI inti di 2.72% dan Services CPI di 3.65%. Proyeksi ini menempatkan Inggris pada jalur inflasi yang tetap sensitif terhadap tekanan domestik maupun eksternal.
Setelah penurunan inflasi yang lebih besar dari perkiraan pada April, ada ekspektasi pembalikan kecil ke atas pada data Mei. Beberapa pelemahan harga di sektor layanan mungkin tidak sepenuhnya bertahan dan bisa berbalik, sehingga tekanan pada angka CPI bulan ini muncul lagi. Di samping itu, tekanan harga pada makanan dan barang inti diperkirakan tetap membayangi catatan inflasi.
Menurut laporan Cetro Trading Insight, jalur CPI Inggris terlihat risiko ke atas yang masih relevan. Peningkatan tagihan energi dan tekanan harga pada sektor makanan/core goods diperkirakan memperkuat tekanan inflasi ke depan. Risiko menumpuk pada sisi peningkatan seiring perubahan dinamika energi dan biaya layanan yang belum mereda.
Kebijakan analisis menunjukkan CPI diperkirakan rata-rata sekitar 3.1% sepanjang tahun ini, sebelum turun menjadi 2.6% tahun depan dan 2.3% pada 2028. Proyeksi ini menempatkan Inggris sebagai ekonomi yang hangat namun moderat dalam konteks global, dengan asumsi stabilitas energi tercapai.
Puncak CPI diperkirakan lebih rendah karena kurva futures minyak dan gas terus menurun. Hal ini mengurangi kontribusi energi terhadap tekanan inflasi meski risikonya tetap ada. Para pembuat kebijakan akan memperhatikan bagaimana pergeseran harga energi mempengaruhi harga jasa dan barang inti.
Rilis data menunjukkan risiko inflasi cenderung ke sisi atas. Tekanan dari biaya makanan dan layanan inti diperkirakan meresap ke dalam data bulanan, meningkatkan volatilitas prospek inflasi. Dengan demikian, dinamika energi dan tekanan pada sektor makanan/core goods menjadi komponen utama dalam evaluasi pasar pada bulan-bulan mendatang.
Analisis ini menegaskan bahwa risiko inflasi tetap berada pada sisi atas meski beberapa faktor terlihat menahan kenaikan. Fluktuasi harga energi dan komoditas global menjadi variabel utama yang dicermati oleh investor. Pasar menimbang potensi perubahan kebijakan fiskal dan moneter seiring perubahan dinamika biaya rumah tangga.
Data harga menunjukkan potensi tekanan lebih lanjut pada bulan-bulan mendatang jika tagihan energi tetap menjadi komponen utama biaya. Lonjakan harga makanan dan barang inti juga bisa memperpanjang tekanan inflasi di Inggris, menambah ketidakpastian bagi investor obligasi, valas, dan aset berisiko. Katalis ini juga menambah tekanan pada pergerakan pasar valuta asing.
Secara keseluruhan, jalur inflasi yang lebih tinggi dapat mempengaruhi sentimen kebijakan moneter dan arah perdagangan mata uang sterling. Pembacaan CPI yang lebih tegang bisa membentuk bias pada pasangan GBPUSD dan penilaian risiko global. Meskipun ada peluang untuk perbaikan, profil risiko menuntut manajemen risiko yang hati-hati bagi trader dan pelaku pasar.