BNP Paribas membahas perbandingan antara kejutan energi akibat perang Iran dan lonjakan harga minyak serta gas dengan dampak bagi Eurozone. Mereka mencatat lonjakan minyak sekitar 44% dan gas sekitar 64% hingga saat ini, tetapi konteksnya berbeda dengan 2022. Laporan ini dipublikasikan oleh Cetro Trading Insight untuk memudahkan pemahaman publik. Mereka mempertanyakan apakah lonjakan harga energi akan menimbulkan hantaman inflasi yang sama seperti pada 2022, atau tidak, mengingat dinamika permintaan dan pasokan saat ini.
Menurut analisis itu, kondisi saat ini cenderung kurang inflasioner. Permintaan pelaku ekonomi dinilai lebih lemah dan hambatan pasokan telah berkurang, sehingga tekanan dari energi tidak otomatis meluas ke seluruh harga. Dengan demikian, jalur transmisi harga energi ke inflasi tampak lebih terbatas. Namun para analis menekankan bahwa potensi risiko tetap ada dan perlu pemantauan ketat.
Mereka juga menyoroti pelajaran yang diambil bank sentral dari gelombang inflasi 2021-2023 dan kesiapsiagaan untuk bereaksi lebih cepat terhadap setiap spillover. Bank-bank sentral kini dinilai siap mengubah kebijakan dengan lebih sigap jika diperlukan untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali. Peningkatan PMI manufaktur pada Maret 2026 juga dianggap sebagai sinyal positif, disertai kenyataan bahwa tidak ada kenaikan komponen harga produksi dan bahwa sentimen rumah tangga terkait situasi finansial relatif lebih stabil dibandingkan periode 2022.
Dinamika inflasi tampak dipengaruhi oleh kombinasi faktor seperti transmisi harga energi, perkembangan permintaan konsumen, dan ketersediaan pasokan yang lebih longgar dibandingkan beberapa tahun lalu. Indikator PMI manufaktur bulan Maret 2026 menunjukkan tren membaik, menandakan bahwa aktivitas produksi tidak lagi saat ini menghadapi gangguan besar. Secara keseluruhan, risiko tekanan biaya bisa berkurang jika harga energi tidak sepenuhnya mempengaruhi harga produk jadi.
Permintaan yang relatif lemah membantu menahan laju inflasi, sehingga tekanan ke atas ekspektasi inflasi dapat ditekan. Bank sentral dilaporkan siap mengambil langkah lebih cepat jika diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan menhan spiral harga serta upah. Pembelajaran dari periode sebelumnya mendorong kebijakan yang lebih hati-hati, dengan fokus pada data aktual dan sinyal pasar yang relevan.
Meski demikian, masih ada risiko yang perlu diwaspadai. Perkembangan harga energi global, dinamika pasar tenaga kerja, serta perubahan sentimen rumah tangga bisa memicu kejutan jika tidak terkelola dengan baik. Karena itu, monitoring berkala tetap penting untuk menilai apakah dampak energi akan berubah menjadi tekanan inflasi jangka panjang atau tetap terbatas pada periode tertentu.
Laporan menegaskan bahwa bank sentral telah belajar dari gelombang inflasi 2021-2023 dan siap merespons lebih cepat untuk menjaga stabilitas harga. Kebijakan moneter bisa menjadi lebih proaktif jika diperlukan meski tekanan inflasi belum menunjukkan tren yang konsisten naik. Langkah ini dimaksudkan untuk mencegah spiral harga dan menahan ekspektasi inflasi agar tetap rendah.
Investor dan pelaku pasar dipentingkan memantau data manufaktur, harga input, serta ekspektasi inflasi untuk menilai arah kebijakan. Pasar keuangan mungkin tetap menghadapi volatilitas karena ketidakpastian geopolitik dan dinamika energi, meski risiko lonjakan inflasi besar tampaknya lebih rendah pada saat ini.
Hasil PMI Maret 2026 dan stabilitas komponen harga produksi meningkatkan keyakinan bahwa dampak energi terhadap inflasi dapat dikelola. Namun para pelaku pasar disarankan menjaga manajemen risiko dan terus mengikuti pembaruan kebijakan dari bank sentral serta perubahan harga energi agar tetap terinformasi.