Analisis Makro China: Koreksi Pasar Perumahan Berlanjut Hingga 2026, Kebijakan Jangka Panjang dan Stimulus Fokus pada Manufaktur

trading sekarang

Prioritas kebijakan jangka panjang secara jelas membatasi ruang dukungan langsung terhadap pasar perumahan. Otoritas memilih jalan yang menahan defisit sambil mendorong reformasi struktural. Akibatnya, pakar ekonomi menilai bahwa respons kebijakan terhadap pasar properti menjadi lebih berhati-hati dan berfokus pada stabilitas jangka panjang.

Analisa dari Standard Chartered menunjukkan bahwa fokus kebijakan berpindah menuju keseimbangan jangka panjang. Upaya tersebut menekankan peningkatan daya saing manufaktur, pengembangan infrastruktur, dan peningkatan konsumsi sebagai motor pertumbuhan. Stimulus besar yang sebelumnya menekan kebijakan kini tidak lagi menjadi prioritas utama.

Dengan sumber daya fiskal terbatas dan tekanan pada pemerintah daerah, langkah besar untuk menopang pasar rumah menjadi lebih sulit dilaksanakan. Meski ada sinyal perbaikan yang berkelanjutan, arah kebijakan cenderung mengurangi intervensi terhadap pasar properti. Para analis menilai keseimbangan antara reformasi dan dukungan langsung akan tetap menjadi isu utama.

Koreksi Harga Properti dan Dinamika Permintaan

Pasar perumahan mengalami koreksi lagi pada 2025, meski sejumlah kebijakan pendukung terus diberlakukan sejak 2021. Rumah tangga tetap berhati-hati dalam melakukan pengambilan kredit baru. Ketidakpastian pendapatan dan pekerjaan turut membebani keputusan pembelian rumah.

Momentum penurunan harga, rasio sewa terhadap harga rendah, dan kepercayaan pekerjaan menekan minat pembeli. Kepercayaan konsumen terhadap peluang pekerjaan menurun sehingga sentimen rumah tangga melemah. Investor dan pembeli ritel menahan diri sambil memantau dinamika kredit dan program relaksasi kebijakan.

Aliran keluar hipotek menunjukkan pembayaran awal masih lebih tinggi daripada pinjaman baru. Hal ini mengindikasikan permintaan yang melemah meski ada pelonggaran syarat kredit. Pergerakan pasar properti kemungkinan akan tetap tertekan hingga faktor-faktor makro membaik secara signifikan.

Stimulus, Manufaktur, dan Prospek Makro

Stimulus fiskal diperkirakan lebih condong untuk mendukung manufaktur dan infrastruktur dibandingkan perumahan. Kebijakan semacam itu diharapkan dapat menahan perlambatan ekonomi tanpa membebani defisit secara berlebihan. Para pembuat kebijakan menilai bahwa produksi domestik dan kapasitas infrastruktur menjadi motor utama pemulihan.

Pembelian kembali properti yang tidak terjual berjalan dengan lambat, sehingga dampak langsung terhadap pasar properti relatif kecil. Efek makro dari program ini kemungkinan terlihat pada aktivitas konstruksi dan kerja sama sektor terkait. Penguatan kredit tetap menjadi salah satu pilar, meski skalanya terbatas.

Faktor struktural seperti inventaris berlebih, ekspektasi yang suram, dan pergeseran prioritas sumber daya membawa tantangan bagi keseimbangan permintaan–penawaran. Analisis menunjukkan bahwa keseimbangan tersebut mungkin tidak tercapai hingga 2028. Dalam konteks ini, hambatan jangka panjang perlu dimitigasi melalui peningkatan efisiensi kebijakan fiskal dan transfer teknologi.

broker terbaik indonesia