Kata-kata Presiden Fed Musalem menegaskan bahwa ekonomi AS diperkirakan tumbuh pada atau di atas potensi pada 2026. Ia menyoroti dukungan fiskal sebagai pendorong utama, disertai efek tertunda dari pemotongan suku bunga sebelumnya. Proyeksi ini mencerminkan keyakinan bahwa dinamika pertumbuhan tetap berada pada jalurnya meski adanya tantangan makroekonomi.
Inflasi diproyeksikan lebih dekat ke 3 persen daripada 2 persen, namun diperkirakan akan mereda sepanjang tahun. Pasar tenaga kerja dilihat mendingin secara bertahap, meski tetap menunjukkan ketahanan. Kebijakan moneter saat ini dinilai berada di kisaran netral dan siap merespons arah kebijakan yang muncul seiring perubahan kondisi.
Kebijakan pelonggaran lebih lanjut diperkirakan tidak diperlukan dalam waktu dekat kecuali tekanan inflasi turun lebih cepat atau pasar kerja memburuk secara material. Risiko terhadap inflasi tetap ada meski prospek pertumbuhan tetap positif. Indikator seperti klaim pengangguran dan keluaran kerja tetap menjadi fokus utama bagi kebijakan kedepan.
Garis kebijakan Fed menunjukkan sikap netral saat ini, dengan fokus menjaga inflasi ke target 2 persen. Walaupun ada dorongan untuk penurunan suku bunga pada Desember karena risiko terhadap pasar kerja, kebijakan secara umum tetap berorientasi kehati-hatian. Narasi ini menegaskan bahwa kebijakan tidak akan terlalu agresif meski kondisi ekonomi menunjukkan sinyal pendukung pertumbuhan.
Pasar tenaga kerja tetap menunjukkan daya tahan, didukung oleh klaim pengangguran dan data pekerjaan yang stabil. Pertumbuhan pekerjaan sekitar titik impas bulanan diamati antara 30 ribu hingga 80 ribu, memberi ruang bagi pelonggaran lebih lanjut hanya jika sinyal inflasi melemah. Metrik pekerjaan menjadi komponen penting dalam evaluasi jalur kebijakan ke depan.
Ada fokus pada isu keterjangkauan perumahan dan pasokan yang lebih dalam dibandingkan hanya pada suku bunga hipotek. Narasi mengenai QE mengarah pada penghapusan durasi alih-alih memperluas likuiditas, sehingga pembelian obligasi saat ini bersifat relatif pendek. Narasi kebijakan tidak akan berubah secara drastis meski ada kandidat ketua Fed baru, karena pendapat di antara pengambil kebijakan sangat beragam.
Dinamika pendukung pertumbuhan berasal dari daya dorong fiskal dan efek tertunda dari pemotongan suku bunga yang lalu, menambah momentum bagi ekonomi. Risiko inflasi tetap ada, meski tanda-tanda mereda terlihat pada beberapa indikator harga. Secara keseluruhan, inflasi barang dan perumahan diperkirakan melunak sepanjang tahun.
Kebijakan QE yang disorot menekankan penghapusan durasi dan pengaruhnya terhadap panjang durasi pinjaman, dengan pembelian obligasi yang saat ini cenderung jangka pendek. Kondisi finansial tidak berada di wilayah fiskal penuh atau pembiayaan pemerintah, sehingga dinamika kebijakan cenderung stabil. Hal ini menambah konteks bagi investor untuk menilai peluang aset berisiko dan sebagai dasar penentuan alokasi.
Meskipun nada optimis muncul, pembaca pasar disarankan memantau tren inflasi yang lebih persisten. Respons kebijakan tidak diharapkan berubah banyak meski kepemimpinan Fed berganti, mengingat luasnya pendapat di antara para pengambil keputusan. Selain itu, perbincangan mengenai keterjangkauan rumah dan tekanan pasokan tetap menjadi faktor penting bagi prospek ekonomi nyata dan irama kebijakan.