Harga minyak mentah WTI bergerak naik mendekati 73 dolar AS per barel setelah berita mengenai penutupan Selat Hormuz. Selat tersebut menjadi jalur pengiriman sekitar 20% minyak mentah global, sehingga gangguan pasokan di wilayah ini berpotensi mengangkat harga. Iran memperingatkan akan menembakkan kapal yang mencoba melewati selat tersebut, menambah kekhawatiran pasar tentang eskalasi konflik.
Iran meningkatkan aktivitas militer di sekitar Hormuz sebagai bagian dari respons terhadap serangan udara AS dan pembunuhan beberapa pemimpin Iran. Pasukan keamanan AS juga mengklaim telah menonaktifkan pos komando IRGC serta fasilitas pertahanan udara dan peluncuran rudal. Langkah-langkah itu memperburuk ketidakpastian aliran minyak dan meningkatkan ketakutan terhadap gangguan pasokan di jalur transit.
Di sisi lain, pasar mulai mempertimbangkan dampak kebijakan moneter AS. Persepsi bahwa Fed akan menahan kenaikan suku bunga menguat beberapa hari lalu, meskipun data inflasi pabrik menunjukkan tekanan yang masih tinggi. Menurut CME FedWatch, peluang Fed menahan suku bunga pada pertemuan Juni naik menjadi sekitar 53,5 persen.
Harga minyak mendapat dukungan dari konteks geopolitik yang membayang. Laju WTI tetap sekitar 73 dolar AS dan para pelaku pasar menilai potensi gangguan pasokan global lebih besar karena eskalasi di Hormuz. Para analis mencatat bahwa fokus risiko kini berputar pada bagaimana produsen dan konsumen merespons ketidakpastian tersebut.
Data ISM Manufacturing PMI menunjukkan tekanan inflasi di tingkat pabrik. Subkomponen Prices Paid melonjak menjadi 70,5 melampaui ekspektasi 59,5 dan angka sebelumnya 59,0. Hal ini menambah kekhawatiran mengenai biaya input yang lebih tinggi bagi produsen minyak dan sektor energi secara umum.
Gabungan faktor geopolitik dan inflasi menunjuk pada volatilitas jangka pendek yang tinggi untuk minyak. Meskipun demikian, permintaan global tetap menjadi variabel kunci karena kebijakan moneter dan aktivitas ekonomi. Pembacaan pasar saat ini menunjukkan bahwa suasana risk-on atau risk-off dapat memicu pergerakan besar dalam beberapa hari mendatang.
Sinyal utama bagi pelaku pasar adalah potensi lonjakan harga lebih lanjut jika ketegangan Hormuz tidak mereda. Investor siap memanfaatkan peluang jika pasokan minyak terganggu berlanjut, sembari memantau pergerakan mata uang dan risiko geopolitik. Pasar juga perlu memperhatikan dinamika kebijakan fiskal serta inflasi untuk menilai berapa lama reli harga bisa bertahan.
Sisi teknikal menunjukkan bahwa level resistance sekitar 75–76 dolar bisa menjadi fokus pengambilan posisi jika harga kembali menembusnya. Break ke atas area tersebut bisa memberi sinyal peluang beli dengan konfirmasi momentum. Namun jika sentimen berubah karena berita baru, pembalikan harga bisa terjadi dengan cepat.
Kesimpulannya, pasar minyak tetap berada di lintasan volatil akibat kombinasi risiko geopolitik dan dinamika kebijakan moneter. Cetro Trading Insight akan terus mengikuti perkembangan di Hormuz dan rilis data manufaktur AS untuk pembaruan pasar selanjutnya. Pembaca didorong untuk selalu memperhatikan manajemen risiko dan ukuran posisi dalam konteks volatilitas tinggi.