
Gelombang optimisme melanda pasar setelah pemerintah menegaskan arah kebijakan minerba yang lebih jelas. Ketidakpastian regulasi selama ini membuat investor berhitung matang, namun kepastian itu menandai titik balik bagi sektor tambang. Cetro Trading Insight melihat langkah ini sebagai pendorong keyakinan, terutama bagi emiten nikel yang sensitif terhadap regulasi dan biaya operasional domestik.
Rapat antara DPR dan Kementerian ESDM menegaskan bahwa skema gross split tetap terbatas untuk sektor migas. Hal ini menghilangkan salah satu sumber ketidakpastian yang selama ini menekan saham emiten minerba. Pemerintah juga menegaskan bahwa tata kelola sektor mineral dan batu bara akan mengacu pada RKAB seperti sebelumnya.
Di sisi lain, pemerintah memberi sinyal pelonggaran kuota produksi secara terukur. Volume produksi dapat ditingkatkan saat harga komoditas menguat untuk meningkatkan penerimaan negara, sementara pasokan bisa dikendalikan ketika harga melemah agar pasar tetap terkendali. Menurut Maybank Sekuritas Indonesia, langkah ini menjadi kabar baik bagi produsen nikel.
Analisis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan dan Shabbhi Valdi, menilai kepastian regulasi mengurangi beban sentimen sektor pertambangan. Dalam riset yang dirilis pada 9 Juni 2026, para analis menekankan bahwa kepastian regulasi migas mengubah dinamika risiko bagi emiten nikel. Analisis Array menunjukkan bahwa kepastian regulasi memfasilitasi ekspansi produksi dan perbaikan margin jika RKAB dikelola dengan tepat.
ANTM dinilai berada dalam posisi cukup aman jika pemerintah menaikkan tarif royalti di kemudian hari. Maybank memperkirakan ANTM berpotensi memperoleh tambahan kuota RKAB pada paruh kedua tahun ini, yang dapat mendongkrak volume produksi. Selain itu, lebih dari separuh laba ANTM berasal dari perdagangan emas domestik yang bebas royalti, sehingga perusahaan relatif terlindung dari kenaikan royalti maupun risiko ekspor.
Eksposur ANTM terhadap pasar ekspor juga relatif kecil, sekitar 2 persen dari laba. Hal ini membuat profil kinerja ANTM lebih defensif dibandingkan emiten tambang lain yang tergantung pada ekspor. Dengan demikian, dinamika RKAB dan regulasi sedang menjadi faktor utama yang perlu diamati investor.
Memperhatikan dinamika harga, patokan mineral untuk nikel berada di sekitar USD60 per ton, lebih tinggi dari kisaran 45-50 USD per ton tahun lalu. Kondisi tersebut membantu menjaga profitabilitas bagi perusahaan tambang, meskipun volatilitas harga komoditas tetap menjadi risiko. Harga emas antam per gram hari ini tetap relevan sebagai referensi volatilitas sektor logam mulia, meskipun fokus kebijakan lebih banyak mempengaruhi aktivitas minerba domestik.
Royalti dan risiko ekspor dapat membatasi potensi naiknya laba, tetapi ANTM memiliki profil defensif karena sebagian besar laba berasal dari pasar domestik. Diversifikasi sumber pendapatan ini membantu menahan dampak kebijakan royalti terhadap kinerja keuangan. Investor perlu memantau perubahan RKAB dan kebijakan ekspor untuk memahami arah perusahaan.
Secara keseluruhan, rekomendasi adalah tetap waspada terhadap dinamika regulasi dan harga komoditas yang mempengaruhi margin. Kinerja ANTM terkait nikel dan perdagangan emas domestik memberi gambaran bahwa peluang masih ada, asalkan perusahaan mampu menjaga produksi dan kendali biaya. Array data dalam evaluasi ini menegaskan bahwa konstelasi pasar masih belum final dan perlu konfirmasi lebih lanjut.