AUD dan NZD secara historis berkait rapat dengan siklus komoditas global. Kedua mata uang ini sering dipandang sebagai aset berisiko yang cenderung menguat saat prospek pertumbuhan global membaik dan melemah ketika risiko meningkat. Analisis Rabobank oleh Jane Foley menegaskan bahwa karakteristik tersebut mencerminkan eksposur ekonomi negara pengekspor komoditas utama.
Ekspor komoditas berperan sebagai penahan risiko terhadap penurunan nilai AUD dan NZD. Selain emas, Australia juga menjadi sumber logam tanah jarang, dan kedua negara menikmati kinerja ekspor pangan yang kuat pada 2025. Permintaan terhadap pangan cenderung lebih inelastis dibandingkan komoditas lain, meskipun profil geopolitik dapat mengubah sensitivitasnya.
Di luar itu, lingkungan pertumbuhan global yang lebih luas tetap menjadi faktor utama bagi pergerakan kedua mata uang. Banyak analis mencatat bahwa dinamika global akan membatasi kekuatan AUD dan NZD jika prospek pertumbuhan global melambat. Dalam konteks kebijakan, risiko bahwa RBA maupun RBNZ menahan diri dari kenaikan suku bunga membatasi pergerakan signifikan pada pasangan AUDUSD dan NZDUSD dalam waktu dekat.
Geopolitik yang berkembang menciptakan volatilitas pada harga komoditas dan arus modal. Ketidakpastian regional dapat mengubah pola permintaan terhadap emas, logam tanah jarang, dan pangan; dampaknya akan berimbas pada AUD dan NZD. Pasar menilai sinyal risiko sebagai refleksi potensi pertumbuhan dan aliran modal global.
Selain fokus pada emas, Australia menjadi produsen logam tanah jarang yang meningkat, sementara ekspor pangan yang kuat di 2025 tetap menjadi faktor pendukung bagi kedua negara. Permintaan pangan sebagian besar lebih tidak elastis, sehingga perubahan harga relatif cenderung menahan level konsumsi. Namun, konflik geopolitik, kebijakan perdagangan, dan faktor sanksi bisa memicu dinamika permintaan yang berbeda.
Secara kebijakan, para analis menilai bahwa RBA dan RBNZ mungkin memilih berhati-hati terhadap kenaikan suku bunga. RBA dijadwalkan mengumumkan kebijakan pada 3 Februari, dan bahasa komite yang kurang hawkish bisa menahan AUD di bawah tekanan. RBNZ akan merilis kebijakan pada 18 Februari, dan nuansa retorika yang lebih terkontrol bisa menekan NZD jika pasar menafsirkannya sebagai langkah pending.
Dalam jangka pendek, ruang untuk penurunan AUDUSD dan NZDUSD terlihat lebih besar seiring berlanjutnya peninjauan kebijakan dan dinamika pertumbuhan global. Para pelaku pasar cenderung menunggu konfirmasi arah dari pernyataan bank sentral serta data ekonomi terbaru. Rebalancing portofolio dan arus modal ke aset berisiko bisa memperburuk kelemahan jangka pendek bagi kedua pasangan.
Beberapa level teknikal yang disebut sebagai zona masuk adalah AUDUSD sekitar 0,66 dan NZDUSD sekitar 0,57, yang dipandang sebagai peluang pembelian jika harga menguji level itu. Target menuju pertengahan tahun menjadi fokus utama bagi investor yang melihat potensi rebound, dengan evaluasi risiko yang sejalan dengan rasio risiko/imbalan minimal 1:1,5. Namun, tanpa konfirmasi harga saat ini, rencana trading perlu dikonkretkan melalui analisis teknikal dan manajemen risiko.
Karena artikel ini mengandalkan faktor fundamental seperti ekspor komoditas dan kebijakan moneter, sinyal trading tidak dapat ditetapkan secara pasti dalam kondisi pasar saat ini. Oleh karena itu, tidak ada rekomendasi beli atau jual eksplisit dalam data yang tersedia. Pembaca dianjurkan untuk meninjau harga pasar secara berkala dan menyiapkan strategi sesuai profil risiko masing-masing.