Dolar Australia berhasil menembus level di atas 0,6700 terhadap dolar AS, setelah memantul dari sekitar 0,6660. Pergerakan tersebut menunjukkan minat beli yang kembali menguat pada AUD di awal tahun ini. Para pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan langkah kebijakan RBA pada 2026, yang bisa menjadi pendorong utama bagi AUD.
Pergerakan tersebut mengindikasikan minat beli yang kembali menguat pada AUD dan menambah peluang prospek penguatan lanjutan. Para pelaku pasar juga mempertimbangkan bagaimana langkah kebijakan RBA di 2026 dapat mempengaruhi dinamika nilai tukar. Di samping itu, volume perdagangan Jumat relatif tipis karena Jepang dan Tiongkok libur Tahun Baru, menambah nuansa likuiditas yang lebih rendah.
Sentimen pasar didorong oleh komentar hawkish Gubernur RBA Michelle Bullock setelah keputusan kebijakan 9 Desember, serta risalah rapat yang menekankan inflasi sebagai fokus utama. Ketegasan kebijakan tersebut memperkuat opsi kenaikan suku bunga di masa depan dan berperan sebagai pendorong utama bagi AUD jika data mendukungnya.
Inflasi konsumen Australia meningkat menjadi 3,8% secara tahunan pada bulan Oktober, naik dari 3,6% pada September dan 3,2% pada Agustus. Laporan inflasi November akan dirilis minggu depan, sedangkan pertumbuhan upah menunjukkan tekanan harga tetap naik. Kondisi tersebut menambah konteks bagi ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan RBA di masa mendatang.
Di seberang samudra, Dolar AS tetap defensif di tengah harapan pelonggaran lebih lanjut kebijakan moneter The Fed. Meskipun beberapa data AS terlihat positif, pasar tetap fokus pada bagaimana kebijakan jangka menengah dapat menekan atau mendukung likuiditas global. Sentimen ini memberikan konteks bagi gerak AUD terhadap USD.
Jika angka inflasi dan upah Australia terus menunjukkan tekanan yang meningkat, peluang kenaikan suku bunga RBA mendatang dapat menguatkan AUD lebih lanjut terhadap USD. Namun arah selanjutnya sangat bergantung pada konfirmasi data inflasi Australia serta pernyataan pejabat bank sentral di masa mendatang, sehingga volatilitas tetap mungkin terjadi menjelang rilis kebijakan selanjutnya.
Di kancah pasar global, PMI Pemasaran S&P Global AS diperkirakan melambat menjadi 51,8 pada Desember dari 52,2 pada November, menandakan ekspansi aktivitas bisnis yang tetap moderat meski melambat. Data ini dapat mempengaruhi persepsi risiko dan arah kebijakan moneter di masa mendatang.
Volume perdagangan cenderung tipis pada hari Jumat karena Jepang dan Tiongkok libur Tahun Baru, sehingga likuiditas pasar menipis dan respons terhadap rilis data ekonomi bisa lebih tajam. Kondisi likuiditas yang rendah sering kali meningkatkan volatilitas terhadap pergerakan mata uang utama.
Rilis data inflasi Australia dan pernyataan pejabat bank sentral berikutnya berpotensi membentuk arah mata uang utama. AUD tetap menjadi fokus para trader karena ekspektasi kenaikan suku bunga RBA menjadi faktor pendorong utama pergerakan pasangan AUDUSD.