B50 Biodiesel Dorong Sinyal Positif bagi Sektor CPO 2026: Analisa Emiten Sawit TAPG dan DSNG

B50 Biodiesel Dorong Sinyal Positif bagi Sektor CPO 2026: Analisa Emiten Sawit TAPG dan DSNG

trading sekarang

Kebijakan biodiesel B50 menjadi pematik utama bagi masa depan harga minyak nabati. Di Cetro Trading Insight, kami melihat langkah mandatori ini berpotensi menciptakan peluang cuan bagi para pelaku sawit, asalkan tantangan operasional dapat diatasi dan pasar dapat menyerap lonjakan permintaan dalam beberapa kuartal ke depan.

Riset Indo Premier Sekuritas yang dirilis 24 April 2026 menunjukkan harga CPO di kuartal pertama 2026 rata-rata 4.200 ringgit per ton atau sekitar Rp14,9 juta per ton. Angka ini stabil YoY dan naik 4 persen dibanding kuartal sebelumnya, mendekati sekitar 90 persen target untuk tahun 2026.

Volume penjualan diperkirakan turun 4 persen QoQ menjadi 934 juta ton, meski pertumbuhannya masih terlihat secara tahunan. Hal ini dipandang wajar secara musiman dengan kontribusi baru sekitar 23 persen dari target tahunan. Secara garis besar, prospek sektor tetap cerah meski fleksibilitas harga menjadi kunci bagi laba emiten di 2026.

Laba bersih inti sektor sawit pada kuartal I 2026 diperkirakan turun sekitar 35 persen QoQ menjadi sekitar Rp1,9 triliun, didorong lemahnya volume penjualan dan naiknya biaya pupuk yang membebani margin meski kinerja secara umum masih di atas konsensus pasar.

Di antara emiten utama, LSIP diperkirakan mencatat penurunan laba terdalam sekitar 51 persen QoQ, sementara TAPG dan DSNG diproyeksikan turun sekitar 35 persen, dan AALI menunjukkan penurunan yang lebih moderat sekitar 20 persen berkat daya tahan volume penjualan.

Lonjakan biaya pupuk menjadi perhatian utama, dengan harga pupuk diperkirakan mencapai USD275 per ton, melonjak sekitar 37 persen dibanding rata-rata 2025. Tender pupuk untuk paruh kedua 2026 diprediksi mengikuti level harga ini, meski dampak terhadap laba emiten seperti DSNG lebih terbatas karena struktur biaya yang lebih terkontrak.

Kebijakan mandatori biodiesel B50 dinilai menjadi pondasi utama untuk menjaga harga minyak nabati sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil. Namun sejumlah risiko teknis dan infrastruktur tetap perlu diwaswadai, mulai dari potensi kekurangan metanol hingga kesiapan kendaraan dan infrastruktur yang belum matang.

Ke depan laba sektor diperkirakan pulih pada kuartal II–III 2026, dengan proyeksi kenaikan sekitar 41 persen dan 29 persen secara QoQ. TAPG dan DSNG disebut sebagai pilihan utama berkat eksposur harga spot yang lebih tinggi serta imbal hasil dividen yang menarik sekitar 10–12 persen.

CGS Internasional Sekuritas Indonesia CGSI mempertahankan pandangan overweight terhadap sektor sawit, menyoroti potensi kenaikan valuasi terutama jika El Nino menekan produksi dan pasokan CPO global semakin ketat. Investor tetap perlu mewaspadai risiko regulasi domestik dan kenaikan biaya input yang dapat menekan margin.

broker terbaik indonesia