Bank of Thailand Beralih ke Kerangka Kebijakan Komprehensif: Prediksi Pemangkasan 25bp pada 2026 dan Implikasi Baht

trading sekarang

Laporan UOB yang dirangkum oleh Enrico Tanuwidjaja dan Sathit Talaengsatya menyoroti pergeseran Bank of Thailand dari fokus tunggal pada suku bunga menjadi kerangka kebijakan yang lebih luas. BOT berupaya mengatasi persoalan ekonomi struktural seperti produktivitas rendah dan ketimpangan, sambil menjaga kebijakan moneter yang akomodatif. Cetro Trading Insight menilai langkah ini perlu disosialisasikan secara jelas agar pelaku pasar memahami mekanisme kebijakan yang lebih operasional.

Laporan tersebut memperkirakan pemangkasan terakhir sebesar 25 basis poin pada Februari 2026, membawa suku bunga kebijakan menjadi 1,00 persen dan diperkirakan dipertahankan hingga 2026-27. Ekspektasi ini menandai transisi yang berhati-hati dari arah kebijakan yang lebih agresif di masa lalu, sambil menimbang stabilitas keuangan dan ruang kebijakan. Analisis ini menekankan bahwa jalur bunga tetap akomodatif meskipun ada perubahan kerangka kebijakan.

Bot juga menyoroti kekhawatiran terhadap apresiasi baht dan aliran non-fundamental, termasuk arus terkait emas yang kadang besar terhadap volume perdagangan valas harian. Bank sentral menonjolkan kekuatan baht—sekitar 8% apresiasi terhadap USD sejak awal 2025—dan menyatakan kesiapan untuk campur tangan jika pergerakan terlalu cepat. Langkah-langkah lebih ketat pada aktivitas valas terkait emas menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas finansial.

Dalam baseline kami, MPC diperkirakan akan mempertahankan kebijakan akomodatif dan memberikan satu pemangkasan terakhir sebesar 25 bp pada pertemuan 25 Februari 2026 setelah rilis GDP kuartal 4/2025, dengan proyeksi pertumbuhan 2025 sekitar 2,0%. Narasi ini menunjukkan kehati-hatian terhadap jalur suku bunga sambil menilai momentum pertumbuhan dari data terkini. Penundaan perubahan tajam menandakan fokus pada kestabilan finansial.

Pemangkasan ini akan membawa suku bunga kebijakan menjadi 1,00%, dan diperkirakan bertahan hingga 2026-27. BOT kemungkinan akan menjaga kebijakan akomodatif lebih lama namun enggan menegaskan rezim bunga rendah permanen karena fokus pada stabilitas keuangan dan menjaga ruang kebijakan yang tersedia untuk merespons risiko. Narasi ini menekankan fleksibilitas kebijakan untuk merespons risiko eksternal dan domestik tanpa mengejar target bunga jangka panjang secara agresif.

Laporan tersebut menekankan bahwa kebijakan akan mengubah fokus valas menjadi domain yang lebih operasional, bukan sekadar alat komunikasi. BOT akan menindak arus non-fundamental, termasuk aliran terkait emas, untuk menjaga stabilitas keuangan dan membatasi volatilitas pasar.

Implikasi bagi Baht, Pasar Valas, dan Kebijakan Investasi Global

Sejak awal 2025, baht mencatat apresiasi sekitar 8% terhadap USD, sebuah dinamika yang mencerminkan kekuatan ekonomi dan kepercayaan pasar terhadap kebijakan nasional. Bank sentral menegaskan kesiapan untuk campur tangan jika pergerakan mata uang terlalu cepat, sehingga volatilitas jangka pendek tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Pembaca juga diingatkan bahwa aliran non-fundamental bisa memicu fluktuasi meskipun arah kebijakan jelas.

BOT menyatakan kesiapan untuk campur tangan jika pergerakan mata uang melebihi kecepatan yang bisa ditoleransi, sehingga risiko volatilitas jangka pendek tetap ada. Keseimbangan antara menjaga pertumbuhan dan stabilitas keuangan menjadi fokus utama pelaku pasar. Investor disarankan memantau GDP 2025 dan rencana kebijakan 2026 untuk menilai arah aliran dana serta potensi pergeseran volatilitas mata uang.

Bagi pasar global, skenario ini menandai keseimbangan antara menjaga pertumbuhan dan stabilitas keuangan. Investor disarankan memantau GDP 2025 dan rencana kebijakan 2026 untuk menilai arah aliran dana serta potensi pergeseran volatilitas mata uang.

broker terbaik indonesia