BRI mencetak laba bersih sebesar Rp57,13 triliun pada 2025, turun 5,26% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, kekuatan pendapatan inti menunjukkan dinamika positif meski laba akhir terdampak faktor biaya. Dalam konteks pasar, capaian ini menegaskan ketahanan bank raksasa dalam menghadapi tantangan makro tanpa kehilangan kemampuan menjaga arus pendapatan utama. Cetro Trading Insight menilai bahwa pola ini mencerminkan lanskap perbankan yang berdenyut, dengan fokus pada arus bunga dan layanan yang tetap kokoh.
Pendapatan bunga BRI sepanjang tahun lalu tercatat Rp207,78 triliun, naik 4,27% secara tahunan. Sementara itu, beban bunga hanya meningkat tipis sebesar 1,2% menjadi Rp57,28 triliun, sehingga efisiensi intermediasi tetap terjaga. Di sisi lain, pendapatan bersih bunga ditambah pendapatan jasa asuransi melonjak 5,54% menjadi Rp151,8 triliun, memperkuat kontribusi lini non-bunga terhadap hasil operasional.
Performa fungsi intermediasi bank terlihat ekspansif dengan kredit konsolidasi mencapai Rp1.521,49 triliun, meningkat 12,31% YoY. Ekspansi ini turut mendorong total aset BRI berada di level Rp2,13 triliun pada akhir periode tersebut. Meski demikian, pertumbuhan kredit yang pesat disertai peningkatan NPL membawa beberapa tekanan pada segi kualitas aset.
Pertumbuhan kredit yang kuat tercermin dari penyaluran kredit konsolidasi yang mencapai Rp1.521,49 triliun, naik 12,31% secara tahunan. Angka ini menunjukkan kemampuan BRI untuk memanfaatkan momentum likuiditas dan demand pembiayaan, sekaligus menambah eksposur terhadap segmen-segmen prioritas. Dalam konteks manajemen risiko, langkah ini perlu diimbangi dengan pengawasan kualitas aset yang ketat dan penempatan cadangan yang memadai.
Di sisi penghimpunan dana, BRI tetap menjaga likuiditas yang solid dengan total Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp1.466,84 triliun, tumbuh 7,42% YoY. Komposisi CASA yang dominan yakni 70,61% dari total DPK menjadi indikator utama penghimpunan dana murah. Kenaikan giro 19,66% menjadi Rp448,20 triliun dan tabungan 7,93% menjadi Rp587,58 triliun memperkuat basis likuiditas bank, meski deposito menyesuaikan dari Rp446,46 triliun menjadi Rp431,05 triliun.
Rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) berada di 91,96% pada penutupan 2025, menandakan tekanan likuiditas relatif moderat meski tingkat penyaluran kredit tinggi. Kondisi ini mengindikasikan perlunya kebijakan manajemen likuiditas yang cermat agar kredit dapat didorong tanpa mengurangi kelangsungan arus kas dan kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek.
Analisa fundamental oleh Cetro Trading Insight menunjukkan bahwa meski beberapa metrik profitabilitas menurun YoY, kekuatan inti pada pendapatan bunga dan jasa memberikan dasar positif untuk evaluasi jangka menengah. Pertumbuhan kredit yang solid memperlihatkan peluang bagi pembentukan nilai, namun peningkatan NPL menjadi perhatian yang perlu dimonitor secara berkelanjutan. Secara umum, dinamika ini menunjukkan adanya potensi rebound jika kualitas aset terkelola dengan lebih baik dan likuiditas tetap terjaga.
Dari segi teknikal, data keuangan tidak memberikan sinyal jelas untuk aksi beli atau jual saat ini. Sinyal trading dinilai netral (no) mengingat adanya kombinasi paparan risiko yakni NPL yang naik dan LDR yang tinggi, meskipun arus kas operasional tetap kuat. Investor disarankan untuk menilai ulang eksposur terhadap saham BBRI seiring dengan perubahan kebijakan manajemen risiko dan dinamika suku bunga.
Kesimpulannya, profil likuiditas BRI tetap solid meski kualitas aset menghadapi tantangan. Untuk investor jangka menengah hingga panjang, fokus utama adalah bagaimana bank menjaga kualitas kredit sambil mempertahankan momentum pertumbuhan kredit. Rekomendasi umum adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap harga saham, menjaga diversifikasi, dan memantau kebijakan manajemen risiko internal yang dapat mempengaruhi kinerja di periode berikutnya.