BEI Tetapkan Porsi Free Float 15% untuk Emiten Milik Prajogo Pangestu: BRPT dan PTRO Lolos, CUAN Paling Dekat Capai Target

BEI Tetapkan Porsi Free Float 15% untuk Emiten Milik Prajogo Pangestu: BRPT dan PTRO Lolos, CUAN Paling Dekat Capai Target

trading sekarang

Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan aturan porsi minimal saham publik (free float) sebesar 15 persen bagi enam emiten milik Prajogo Pangestu. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperdalam likuiditas dan memperkuat disiplin kepemilikan di level perusahaan publik. Menurut Cetro Trading Insight, langkah ini juga menjadi indikator penting bagi pasar yang menimbang kualitas tata kelola perusahaan di bursa nasional.

Di antara enam emiten, dua telah memenuhi persyaratan: PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Petrosea Tbk (PTRO). BRPT melaporkan free float sebesar 26,7 persen, jauh melampaui batas minimum. Sementara PTRO mencatat free float 27,7 persen, juga di atas standar yang ditetapkan.

Sementara itu, BEI memberikan masa transisi bagi emiten yang belum memenuhi syarat. Transisi bertahap dengan target 12,5 persen pada 31 Maret 2027 dan 15 persen pada 31 Maret 2028, sesuai ketentuan terkait kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun. Penerapan bertahap ini dirancang untuk memberi ruang bagi perusahaan menyesuaikan struktur kepemilikan. Ketentuan ini mencerminkan fleksibilitas regulasi terhadap dinamika pasar modal domestik.

Empat emiten sisanya belum mencapai batas 15 persen free float, yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) 10,5 persen, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) 10 persen, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) 12,3 persen, dan CUAN 14,9 persen. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar perlu menilai implikasi likuiditas terhadap perdagangan saham mereka. Meski angka publik bisa bertambah, pola kepemilikan ini tetap menjadi tantangan jelang ketaatan pada aturan.

BEI memberikan masa transisi hingga 2027-2028, sesuai ketentuan bagi emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun. Transisi ini dimaksudkan untuk memberi waktu bagi perusahaan menyesuaikan struktur kepemilikan publik tanpa mengganggu stabilitas harga saham secara mendadak.

CUAN adalah emiten Prajogo Pangestu yang paling dekat dengan syarat tersebut; Prajogo terlihat aktif melepas saham CUAN sejak akhir Maret 2026. Pada 30 Maret, Prajogo tercatat memiliki 94,5 miliar saham CUAN atau sekitar 84,1 persen. Lalu pada 4 Mei, jumlah sahamnya menyusut menjadi 91,5 miliar saham, ekuivalen dengan 81,4 persen. Dengan kata lain, selama sekitar satu bulan terakhir, ia telah melego sekitar 3 miliar saham CUAN atau sekitar 2,7 persen dari total saham beredar.

Implikasi bagi Investor dan Pengamatan ke Depan

Langkah ini berpotensi meningkatkan likuiditas saham-saham yang masih rendah free float, termasuk CUAN. Porsi publik yang lebih besar bisa memicu arus perdagangan yang lebih sehat, memberikan peluang bagi investor untuk masuk dan keluar posisi dengan lebih efisien. Namun, transisi ini juga bisa memicu volatilitas jangka pendek saat perubahan struktur kepemilikan belum sepenuhnya terekam pasar. Secara umum, perubahan semacam ini perlu diamati dalam konteks tata kelola dan rencana kepatuhan jangka panjang perusahaan.

Regulator BEI akan memantau kepatuhan dan progres transisi, serta bagaimana perubahan kepemilikan publik mempengaruhi likuiditas dan valuasi emiten. Pasar akan merespons kombinasi faktor ini dengan penyesuaian harga dan potensi perubahan likuiditas antar saham Prajogo Pangestu yang terpantau secara berkala.

Investor disarankan memantau update emiten terkait rencana kepemilikan publik, serta potensi rebalancing portofolio di masa mendatang. Informasi publik mengenai tanggal transisi dan perubahan komposisi pemegang saham penting untuk menilai peluang dan risiko yang terkait dengan emiten-emiten dalam daftar tersebut.

banner footer