
Di tengah laju transformasi energi, BIPI menegaskan arah masa depan dengan memperluas jejaknya di sektor energi hijau. Kepemilikan PT Bakrie Capital Indonesia atas BIPI meningkat dari 6,73% menjadi 7,06% melalui pembelian 212,86 juta saham pada Rp180 per saham, total sekitar Rp38,3 miliar. Pengumuman tersebut dikonfirmasi oleh Corporate Secretary BIPI, Kurniawan Budiman.
Aksi korporasi ini memperkuat posisi BIPI menjelang gelombang kedua tender Waste-to-Energy yang diselenggarakan oleh BPI Danantara. Langkah ini sejalan dengan strategi diversifikasi yang menargetkan 50% pendapatan dari segmen non-batu bara dalam tiga tahun ke depan. Dukungan terhadap pemanfaatan energi berkelanjutan juga dipandang sebagai fondasi bagi kinerja keuangan yang lebih stabil.
Aliansi strategis dengan Bakrie Group semakin kokoh dengan bergabungnya Humpuss Group dalam kerja sama di berbagai proyek energi berkelanjutan dengan total estimasi belanja modal USD1,5 miliar. Dalam konteks operasional, kerja sama ini menegaskan arah BIPI untuk memperluas portofolio hijau melalui inisiatif yang berfokus pada energi terbarukan dan infrastruktur terkait.
Melalui MoU antara BIPI dan Humpuss Group, langkah kolaborasi yang lebih luas di sektor energi berkelanjutan telah ditetapkan. Kesepakatan ini menargetkan lima proyek dengan total belanja modal sekitar USD1,5 miliar. Proyek-proyek tersebut dipandang sebagai landasan bagi ekosistem energi bersih yang lebih luas dan berkelanjutan.
Proyek utama mencakup pembangkit panas bumi yang terhubung dengan pusat data di Pulau Sabang, Aceh, serta pembangkitan Mini LNG Plant di Sidoarjo dan Batam. Inisiatif ini dirancang untuk memanfaatkan sumber energi lokal secara efisien sambil memperluas jaringan infrastruktur pendukung energi terbarukan. Kolaborasi ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pengembangan energi bersih.
Ekspansi hijau BIPI ini melengkapi portofolio yang sebelumnya telah mengamankan 20 persen kepemilikan di anak usaha Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) untuk mengoperasikan fasilitas PSEL Cipeucang di Tangerang Selatan. Langkah ini memperkuat posisi BIPI sebagai penyedia solusi energi bersih nasional dan menciptakan sinergi antara produksi energi berkelanjutan serta infrastruktur pendukungnya.
Gema ekspansi hijau didorong juga oleh kebutuhan pembiayaan belanja modal segmen non-batu bara yang diperkirakan mencapai Rp86 triliun dalam beberapa tahun mendatang. Untuk mendanai rencana ini, BIPI melepas seluruh kepemilikan 99,90% di anak usaha tambang batu bara, PT Sintesa Bara Gemilang Tbk (SBG), kepada PT Indo Panca Borneo senilai Rp1,79 triliun. Transaksi ini menjadi elemen kunci dalam mengamankan likuiditas tambahan bagi agenda ekspansi.
Divestasi jumbo ini disebut sebagai langkah yang menguntungkan karena selain memperoleh likuiditas, perseroan juga lepas dari beban corporate guarantor atas utang SBG sebesar Rp4 triliun. Perbaikan neraca keuangan diharapkan membuat profil risiko BIPI lebih atraktif di mata investor. Secara keseluruhan, langkah restrukturisasi ini memperkuat fondasi keuangan dan menegaskan arah menuju energi hijau yang berkelanjutan.
Dalam konteks pembaca kami di Cetro Trading Insight, dinamika ini mencerminkan evolusi strategi perusahaan menuju portofolio ramah lingkungan. Upaya penguatan keuangan dan ekspansi hijau dipandang sebagai pilar pertumbuhan jangka panjang yang relevan bagi investor yang tertarik pada transisi energi nasional.