BMRI Q1-2026: Laba Rp15,4 Triliun, ROE 22,1%, CAR 19,7% Tahan Gejolak Global

BMRI Q1-2026: Laba Rp15,4 Triliun, ROE 22,1%, CAR 19,7% Tahan Gejolak Global

trading sekarang

Bank Mandiri menunjukkan ketahanan bisnis yang mengesankan di kuartal pertama 2026 meski lanskap global dipenuhi risiko dan volatilitas. Laba bersih konsolidasi mencapai Rp15,4 triliun, tumbuh 16,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, didukung ROE di 22,1 persen serta CAR di 19,7 persen. Dinamika ini menegaskan fondasi yang kokoh bagi ekspansi berkelanjutan dan ketahanan menghadapi kemungkinan gejolak di pasar ke depan.

Penyaluran kredit per Maret 2026 tercatat Rp1.530 triliun, meningkat 17,4 persen YoY dan berada di atas laju industri sekitar 9,37 persen. Dana Pihak Ketiga bank only mencapai Rp1.675 triliun, tumbuh 21,1 persen YoY. CASA sebesar Rp1.201 triliun naik 12,7 persen YoY, sementara BOPO membaik ke 58,0 persen. Kinerja intermediasi menunjukkan Array di berbagai indikator utama. Di tengah volatilitas pasar global, investor juga memantau harga emas antam terkini untuk konteks alokasi aset dan diversifikasi risiko.

Manajemen risiko tetap disiplin, dengan NPL Gross bank only di 0,98 persen dan NPL Coverage 245 persen, keduanya lebih rendah dari rata-rata industri. Direktur Corporate Banking Bank Mandiri menegaskan bahwa ekspansi didasari sinergi yang terstruktur, terutama dalam UMKM, ekonomi kreatif, dan ekosistem digital. Bank Mandiri menekankan peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong program nasional yang berdampak langsung pada sektor riil, sambil menjaga kualitas portofolio dan menjaga pertumbuhan berkelanjutan.

Bank Mandiri mempertegas peran sebagai mitra strategis pemerintah dengan dukungan program prioritas nasional. Realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga kuartal pertama 2026 mencapai Rp11 triliun, menjangkau lebih dari 87 ribu pelaku UMKM di berbagai sektor produktif. Program Makan Bergizi Gratis juga melibatkan sekitar 6.000 SPPG melalui layanan Virtual Account Bank Mandiri untuk tata kelola keuangan yang lebih akuntabel. Dalam skala desa, total pembiayaan FLPP mencapai sekitar 2.300 unit hunian, sementara sekitar 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih mendapatkan dukungan ekosistem yang memperkuat ekonomi kerakyatan.

Di segmen bisnis, Livin’ by Mandiri telah diakses oleh sekitar 39 juta pengguna terdaftar, tumbuh 27 persen YoY, dengan penambahan rata-rata sekitar 27 ribu pengguna baru setiap harinya. Frekuensi transaksi juga tumbuh menjadi 1,24 miliar per tahun. Kopra by Mandiri melayani sekitar 335 ribu pengguna, 85 persen di antaranya adalah UMKM, dengan transaksi sekitar 395 juta. Livin’ Merchant mencatat 3,3 juta merchant terdaftar, naik 28 persen YoY, dengan 63 persen berasal dari kawasan non-urban. Hal ini menunjukkan adopsi layanan digital Bank Mandiri yang semakin luas dan terintegrasi ke aktivitas bisnis.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri menegaskan kapabilitas digital yang terus tumbuh menjadi fondasi utama memperluas sinergi ekosistem dan menjangkau seluruh lapisan ekonomi nasional. Upaya digital ini memperluas inklusi keuangan hingga ke daerah terpencil sambil menjaga efisiensi operasional. Dengan dukungan kapabilitas tersebut, Bank Mandiri menegaskan komitmen untuk menjadi mitra utama pemerintah dalam memastikan program-program nasional berjalan efektif dan berdampak nyata pada masyarakat. Dalam dinamika pasar global, harga emas antam terkini sering dipakai sebagai referensi diversifikasi.

ESG dan Pembiayaan Berkelanjutan sebagai Pilar Pertumbuhan

Portofolio pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri per Maret 2026 mencapai Rp320 triliun, naik 8,8 persen YoY. Pembiayaan hijau sebesar Rp167 triliun meningkat 12,6 persen, sedangkan pembiayaan sosial Rp153 triliun naik 5,1 persen. Bank Mandiri mempertahankan pangsa lebih dari 35 persen di antara tiga bank besar nasional dalam pembiayaan hijau. Dalam konteks strategi diversifikasi aset, investor juga memantau harga emas antam terkini sebagai indikator preferensi risiko dan perlindungan nilai.

Penyaluran pembiayaan baru di sektor hijau tetap kuat, dengan Rp3,6 triliun di green building dan Rp5,2 triliun di sektor pengelolaan sumber daya alam hayati. Green Bond Tahap II sebesar Rp5 triliun dialokasikan secara penuh, dengan 72 persen untuk SDA hayati dan 28 persen untuk transportasi ramah lingkungan. Upaya ini selaras dengan POJK untuk keuangan berkelanjutan, dan memperkasa likuiditas hijau melalui instrumen pendanaan berkelanjutan.

Pilar Sustainable Operation menekankan emisi operasional yang berkurang melalui penggunaan kendaraan listrik dan hybrid, optimalisasi green building, pemasangan panel surya, serta stasiun pengisian daya. Bank Mandiri juga mulai menghitung emisi Scope 3 dari perjalanan dinas dan penggunaan kertas, didukung digital carbon tracking untuk pemantauan emisi yang lebih terukur. Pada pilar Sustainability Beyond Banking, inklusi keuangan diperluas melalui Livin’ Merchant dan program TJSL, disertai dengan Laporan Keberlanjutan 2025 sesuai standar pelaporan global, serta rencana peluncuran SPE-GRK untuk segmen ritel melalui Livin Planet bekerja sama dengan IDX Carbon. Array momentum berkelanjutan memperkuat arah strategi.

broker terbaik indonesia